Monday, 4 Syawwal 1439 / 18 June 2018

Monday, 4 Syawwal 1439 / 18 June 2018

Limbah Plastik Sudah Sampai Ke Pelosok Kutub Utara

Jumat 08 June 2018 15:51 WIB

Rep: Inas Widyanuratikah/ Red: Didi Purwadi

Kutub Utara

Kutub Utara

Foto: Reuters
Sampah terdeteksi di 9 dari 17 sampel air di Semenanjung Antartika pada awal 2018.

REPUBLIKA.CO.ID, OSLO -- Greenpeace mengungkapkan pada Kamis (7/6) pihaknya menemukan limbah plastik dan bahan kimia berbahaya di bagian terpencil Antartika tahun ini. Hal ini membuktikan polusi menyebar hingga ujung dunia dan berarti semakin membahayakan.

Potongan kecil plastik hingga potongan tas belanja sampai ban mobil terdeteksi di sembilan dari 17 sampel air yang dikumpulkan di Semenanjung Antartika pada awal 2018. Ditemukan juga bahan kima yakni PFA yang digunakan dalam produk industri dan dapat membahayakan satwa liar.

''Kami mungkin menganggap Antartika sebagai hutan belantara yang terpencil dan bersih. Namun dari polusi dan perubahan iklim, jejak manusia di situ menjadi jelas," kata anggota Greenpeace bagian Kampanye Lindungi Anatartika, Frida Bengtsson, Kamis.

Badan Lingkungan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) mengatakan polusi plastik telah terdeteksi dari Kutub Utara menuju Antartika. Termasuk pula di tempat-tempat terpencil seperti Palung Mariana, yang merupakan bagian terdalam dari lautan di Pasifik.

Dikatakan juga, hanya sedikit plastik yang didaur ulang. Pemerintah seharusnya memperhitungkan pelarangan atau membebani dengan pajak perusahaan yang menggunakan plastik atau wadah makanan agar mengurangi dampak polusi lingkungan.

Tahun lalu, peneliti dari Universitas Hull dan tim Survey Antartika Inggris menemukan kandungan plastik di Antartika lima kali lebih tinggi dari perkiraan. Hal ini berarti polusi menyebrang dari Laut Selatan. Sementara itu, peneliti masih belum bisa menjawab dampak apa yang akan terjadi pada kehidupan laut akibat hal ini.

Selain itu, peneiti dari Jerman mengatakan melihat es yang mengapung di Laut Arktik mengandung limbah plastik. "Plastik bertahan sampai ratusan tahun," kata peneliti Ilka Peeken.

Sumber : Reuters
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES