Minggu, 9 Zulqaidah 1439 / 22 Juli 2018

Minggu, 9 Zulqaidah 1439 / 22 Juli 2018

Mantan Agen Senior Sebut Comey Rusak Reputasi FBI

Selasa 17 April 2018 19:33 WIB

Rep: Fira Nursya'bani/ Red: Nur Aini

Mantan direktur FBI James Comey saat bersaksi mengenai pemecatannya oleh Presiden AS Donald Trump di hadapan Komite Intelijen Senat di Capitol Hill, Washington, Kamis, 8 Juni 2017.

Mantan direktur FBI James Comey saat bersaksi mengenai pemecatannya oleh Presiden AS Donald Trump di hadapan Komite Intelijen Senat di Capitol Hill, Washington, Kamis, 8 Juni 2017.

Foto: AP Photo/J. Scott Applewhite
Agen intelijen merasa tak nyaman dengan Comey.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Sejumlah mantan agen senior menuduh James Comey telah merusak reputasi FBI. Mantan Direktur FBI itu dianggap telah memainkan permainan berbahaya dengan meluncurkan sebuah buku dan melakukan wawancara kontroversial.

Para mantan agen senior tersebut mengaku telah dihubungi oleh beberapa agen yang saat ini masih bekerja di FBI. Mereka merasa tidak nyaman dengan Comey yang terlibat perang kata-kata dengan Presiden AS Donald Trump, yang memecatnya tahun lalu.

Dalam sebuah wawancara dengan ABC pada Ahad (15/4) malam, Comey mengatakan Trump secara moral tidak layak menjadi presiden. Komentarnya tersebut mengecewakan sejumlah mantan bawahannya yang telah menganggapnya sebagai sosok yang baik secara pribadi maupun profesional.

Sementara bukunya yang berjudul A Higher Loyalty: Truth Lies, and Leadership, telah diterbitkan pada Selasa (17/4). "Sangat kurang bermartabat. Dia, dan sejumlah pegawai FBI lainnya, telah merusak lembaga itu sendiri," ujar Nancy Savage, Direktur Eksekutif Society of Former Special Agents of FBI, dikutip The Guardian.

Savage telah menjadi agen FBI selama 30 tahun dan pernah menjabat sebagai presiden asosiasi agen khusus FBI. Wanita yang pensiun pada 2011 itu mengatakan sangat tidak pantas bagi Comey untuk berbicara tentang hal-hal yang berkaitan dengan presiden.

Dalam wawancara itu, Comey juga membahas mengenai apakah Trump telah menekannya untuk membatalkan penyelidikan terkait hubungan mantan penasihat keamanan nasional AS Michael Flynn dengan Rusia. Comey mengaku telah menyiarkan kabar bahwa Rusia telah membantu Trump, sebelum ada konfirmasi apapun.

"Secara keseluruhan, saya dan sebagian besar anggota kami tidak berpikir pantas baginya (Comey) untuk mendiskusikan secara terbuka hal-hal yang masih diselidiki dan tidak pantas dia menulis buku tentang itu," kata Savage.

"Jika dia akan menjadi saksi, dia perlu memberikan informasi yang dia miliki dengan cara yang terkendali, bukan dengan buku ... itu adalah protokoler yang buruk, itu belum pernah terjadi sebelumnya dan sangat tidak disarankan," ujarnya.

Savage juga mengkritik beberapa rekan Comey seperti Andrew McCabe, yang dipecat bulan lalu atas tuduhan membocorkan informasi ke media. Agen FBI biasanya akan menghindari pernyataan publik secara terbuka tentang masalah-masalah internal atau politik yang biasa dibicarakan di belakang layar.

"Masih banyak orang di agensi ini yang mendukung Comey, tetapi banyak juga yang marah padanya," ujar mantan agen senior FBI, Bobby Chacon. Chacon pensiun pada 2014 sebagai kepala tim penyelam forensik bawah laut FBI yang berbasis di Los Angeles, setelah menjadi agen selama 27 tahun.

Ron Hosko, mantan asisten direktur divisi kriminal FBI, mengatakan pernyataan Comey hanya akan menjadi bahan bakar bagi Trump untuk terus mengkritik FBI. Dengan berbicara seperti ini, Comey tidak membantu FBI untuk melawan balik serangan Trump terhadap reputasinya, kata Hosko.

Dia menambahkan, Comey akan memperburuk keretakan antara Trump dan FBI. "Saya perkirakan keretakan ini akan tetap terjadi untuk waktu yang sangat lama," ungkapnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES