Rabu, 6 Syawwal 1439 / 20 Juni 2018

Rabu, 6 Syawwal 1439 / 20 Juni 2018

Pelajar AS Tuntut Pengendalian Senjata Diperketat

Selasa 20 Februari 2018 04:29 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Bunga, balon-balon dan boneka di Marjory Stoneman Douglas High School di Parkland, Florida menjadi simbol untuk mengingat korban penembakan di sekolah tersebut, Ahad (18/2).

Bunga, balon-balon dan boneka di Marjory Stoneman Douglas High School di Parkland, Florida menjadi simbol untuk mengingat korban penembakan di sekolah tersebut, Ahad (18/2).

Foto: John McCall/South Florida Sun-Sentinel via AP
Insiden penembakan di Florida memicu kontrofersi penggunaan senjata.

REPUBLIKA.CO.ID, PARKLAND -- Pelajar di AS menuntut undang-undang senjata lebih ketat. Ini dilakukan setelah adanya insiden penembakan di Florida. Siswa dari sekolah menengah atas Marjory Stoneman Douglas, tempat seorang mantan siswanya dituduh membunuh 17 orang pada Rabu, bergabung dengan warga di media sosial untuk merencanakan gerakan di Washington untuk mendapatkan perhatian dari orang dewasa, yang menurut banyak orang gagal melindungi anak-anak.

"Saya merasa ini waktu kami bersikap, karena, Anda tahu, kami adalah orang di sekolah ini, kami yang berhadapan dengan penembak, yang masuk ke ruang kelas dan ruang kami," kata Lane Murdock dari sekolah menengah atas Ridgefield di Connecticut.

Murdock, siswa berusia 15 tahun, yang tinggal 32 km dari sekolah dasar Sandy Hook Elementary School memperoleh lebih dari 36 ribu tanda tangan pada sebuah petisi online meminta siswa. Sekolah itu adalah tempat 20 anak-anak dan enam orang dewasa ditembak mati lima tahun lalu.

Alih-alih pergi ke kelas, dia mendesak rekan-rekannya sesama siswa untuk melakukan demonstrasi di peringatan ke-19 penembakan massal di Columbine High School di Colorado.

Pembunuhan pekan lalu di Florida, yang terjadi setelah beberapa penembakan di sekolah tahun ini, memicu perdebatan panas negara itu antara pendukung untuk pengendalian senjata dan pemilik senjata.

Mantan siswa Nikolas Cruz (19 tahun) menghadapi sejumlah tuduhan pembunuhan atas kematian 14 siswa dan tiga anggota staf, dan melukai lebih dari selusin lainnya, dalam aksi yang menggeser Columbine sebagai sekolah menengah atas lokasi penembakan terburuk dalam sejarah negara itu. Tuduhan tersebut bisa berpeluang hukuman mati, tapi jaksa belum mengatakan jika mereka akan mencari hukuman mati.

Cruz dilaporkan telah diselidiki oleh polisi dan pejabat negara sejak 2016 setelah memotong lengannya di video media sosial, dan mengatakan bahwa ia ingin membeli senjata.

Selain itu, Biro Investigasi Federal (FBI) mengakui pada Jumat bahwa pihaknya gagal untuk menyelidiki sebuah peringatan bahwa Cruz memiliki senjata dan keinginan untuk membunuh.

Sebuah aksi dilangsungkan di Tallahassee, ibu kota negara bagian, pada Rabu, di mana seorang anggota parlemen sedang mencari izin legislatif untuk sebuah larangan penjualan senjata penyerangan, termasuk AR-15 yang diduga digunakan Cruz. Senator Demokrat Negara Bagian itu, Linda Stewart, yang mewakili Orange County, di mana 49 orang dibantai di klub malam Pulse pada tahun 2016, mengatakan bahwa dia perlu mendapat dukungan dari tiga anggota Partai Republik (yang mengendalikan legislatif negara bagian) untuk memenangkan jalan bagi upayanya tapi berharap bisa memaksakan pemungutan suara meski gagal.

Sumber : antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Senegal Menang 2-1 Atas Polandia

Rabu , 20 Juni 2018, 00:22 WIB