Rabu, 13 Rabiul Awwal 1440 / 21 November 2018

Rabu, 13 Rabiul Awwal 1440 / 21 November 2018

Pasien Ebola Melarikan Diri dari Karantina di Kongo

Kamis 24 Mei 2018 14:40 WIB

Rep: Fira Nursya'bani/ Red: Nur Aini

Foto yang diambil pada Ahad, 20 Mei 2018 ini menunjukkan sebuah tim dari Doctors Without Borders memakai pakaian pelindung dan peralatan untuk persiapan pengobatan pasien Ebola di rumah sakit Mbandaka, Kongo.

Foto yang diambil pada Ahad, 20 Mei 2018 ini menunjukkan sebuah tim dari Doctors Without Borders memakai pakaian pelindung dan peralatan untuk persiapan pengobatan pasien Ebola di rumah sakit Mbandaka, Kongo.

Foto: Louise Annaud/Medecins Sans Frontieres via AP
Ebola telah menyebar ke wilayah perkotaan Kongo.

REPUBLIKA.CO.ID, MBANDAKA -- Tiga pasien ebola dilaporkan melarikan diri dari ruang karantina di Kota Mbandaka, Republik Demokratik Kongo, pekan lalu di tengah meningkatnya wabah penyakit tersebut di negara itu. Insiden tersebut cukup berbahaya mengingat Mbandaka merupakan kota yang padat dengan jumlah penduduk 1,2 juta jiwa.

Juru bicara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Jenewa, Tarik Jasarevic, mengatakan dua pasien yang melarikan diri kemudian ditemukan meninggal dunia. Sementara pasien ketiga masih hidup dan saat ini berada di bawah pengawasan ketat petugas medis. "Sangat disayangkan tetapi hal ini tidak terduga. Adalah hal yang normal bagi mereka jika ingin bertemu dengan orang-orang yang dicintai dan berada di rumah di saat-saat terakhir kehidupan mereka," kata Jasarevic kepada ABC News.

Staf WHO di Republik Demokratik Kongo telah melipatgandakan upaya mereka untuk melacak semua orang yang melakukan kontak dengan ketiga pasien itu. Hal itu karena virus ebola tidak seperti penyakit lain. "Terpapar mayat atau cairan tubuh atau barang-barang pribadi dari orang yang meninggal karena ebola dapat menyebarkan penyakit. Penting bagi kita untuk dapat menjelaskan masalah ini kepada anggota keluarga pasien," ujarnya. Lantaran hal itu, WHO meminta keterlibatan pemimpin masyarakat setempat untuk menghentikan wabah ebola.

Menurutnya, meyakinkan penduduk di negara Afrika Tengah untuk mencari pengobatan dan memanfaatkan praktik yang aman guna mencegah penyebaran penyakit mematikan adalah sebuah tantangan besar. Banyak dari mereka yang mengikuti praktik agama dan tradisional, yang tidak selalu selaras dengan rekomendasi kesehatan.

Mereka yang tinggal di daerah pedesaan dan wilayah terpencil mungkin tidak percaya bahwa ebola itu nyata dan obat-obatan Barat dapat membantu. Dengan demikian, Kementerian Kesehatan Kongo dan mitra internasionalnya, seperti WHO dan Oxfam, gencar melakukan kampanye kesadaran dengan mengorganisasi dialog komunitas.

Mereka juga pergi dari pintu ke pintu untuk memberi saran kepada orang-orang tentang tindakan pencegahan yang harus dilakukan saat terjadi wabah. "Kami mendengar orang-orang memiliki keraguan dan kekhawatiran tentang wabah ini," ujar Jose Barahona, Direktur Oxfam di Republik Demokratik Kongo.

Beberapa orang tidak percaya pada virus ebola atau pada obat yang disediakan, sementara yang lain takut akan hal itu. "Kami telah melihat banyak kasus orang yang meninggalkan rumah sakit dan menolak perawatan. Ada juga beberapa praktik tradisional mengenai penanganan dan penguburan mayat yang dapat meningkatkan risiko penularan setelah kematian," kata Barahona.

Penyakit ebola, sejenis demam berdarah yang disebabkan oleh virus, menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi. Tidak ada perawatan khusus untuk ebola.

Gejalanya meliputi demam, sakit kepala, kelelahan, nyeri otot, dan ketika penyakit memburuk, dapat menyebabkan muntah diare, ruam, dan memar atau pendarahan tanpa cedera. Ada beberapa jenis demam berdarah di Republik Demokratik Kongo, jadi tidak semua kasus yang dicurigai adalah ebola.

Wabah ebola yang sedang berlangsung di Mbandaka terjadi pada minggu kedua setelah satu kasus dikonfirmasi di Wangata, salah satu dari tiga zona kesehatan di Mbandaka. Kasus itu adalah kasus pertama yang terdeteksi dan dikonfirmasi di zona kesehatan perkotaan, mengingat semua kasus ebola biasanya dilaporkan terjadi di daerah perdesaan terpencil di Provinsi Equateur.

Pada akhir pekan lalu, jumlah kasus ebola yang dikonfirmasi di Kota Mbandaka telah melonjak menjadi empat. "Kami memasuki fase baru dari wabah ebola yang sekarang mempengaruhi tiga zona kesehatan, termasuk zona kesehatan perkotaan," kata Menteri Kesehatan Republik Demokrat Kongo Oly Ilunga Kalenga dalam sebuah pernyataan pekan lalu.

Namun Kalenga tidak segera menanggapi permintaan ABC News untuk mengomentari tentang pasien yang melarikan dari ruang karantina di Mbandaka. Mbandaka terletak di sepanjang Sungai Kongo, sebagai pusat transit padat penduduk di persimpangan Provinsi Equateur, sehingga menimbulkan kekhawatiran virus ebola akan dengan mudah ditularkan.

Bagian hilir dari Mbandaka adalah ibu kota negara, Kinshasa, yang merupakan rumah bagi sekitar 10 juta penduduk. Tepat di seberang sungai dari Kinshasa ada Brazzaville, ibu kota Republik Kongo yang bersebelahan.

Pada Selasa (22/5) malam, total 58 orang telah melaporkan gejala demam berdarah di Republik Demokratik Kongo sejak wabah pertama diumumkan pada 8 Mei. Lebih dari 7.500 dosis vaksin ebola telah dikirim ke Provinsi Equateur selama akhir pekan ini.

Sementara itu, dana jutaan dolar AS dari pemerintah Kongo dan bantuan internasional telah dialokasikan untuk memerangi penyebaran penyakit mematikan ini. Dana itu termasuk dana 8 juta dolar AS dari Agency for International Development AS.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Persija Menang 3-0 Atas Persela

Selasa , 20 Nov 2018, 20:53 WIB