Kamis, 24 Syawwal 1440 / 27 Juni 2019

Kamis, 24 Syawwal 1440 / 27 Juni 2019

Arab Saudi Pertahankan Aplikasi Lacak Keberadaan Perempuan

Selasa 19 Feb 2019 16:08 WIB

Red: Nur Aini

Perempuan Saudi/ilustrasi

Perempuan Saudi/ilustrasi

Foto: earabgirls.com
Aplikasi Absher diduga dipakai pria untuk melacak keberadaan istri dan perempuan.

REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH -- Arab Saudi membela sebuah aplikasi seluler yang dituduhkan sejumlah pihak dapat dipakai para pria untuk melacak keberadaan istri dan kerabat perempuannya.

Sejumlah warga Arab Saudi, kebanyakan laki-laki, telah memberikan lima bintang kepada aplikasi Absher lengkap dengan ulasannya di Google Play.

Baca Juga

"Bagi mereka yang tidak tahu sama sekali soal aplikasi ini, kamu tak tahu apa-apa. Aplikasi ini mewakili pelayanan pemerintahan yang sangat canggih," kata pengguna yang bernama Jafar Alfahad.

Jafar menambahkan jika aplikasi tersebut telah menolong untuk perpanjangan paspor, surat mengemudi, dan lainnya dengan satu klik. "Jangan menjadi bodoh dengan apa yang dikatakan media, kecuali jika kamu sendiri benar-benar memakainya."

Ada pula perempuan, meski jumlahnya yang lebih sedikit yang juga ikut bersuara.

ABC Indonesia tidak dapat memverifikasi apakah pengguna yang memberikan suara di Google dan Apple benar-benar mengunggah dan menggunakan aplikasinya, atau hanya sekadar memberikan ulasan. Hingga artikel ini diterbitkan aplikasi tersebut sudah diunduh sebanyak 1 juta lebih, dengan hampir 70 ribu ulasan dan mendapat bintang 4,8.

Semua ini berawal setelah ditemukan adanya sebuah aplikasi yang dapat mengatur kemana perempuan Saudi boleh pergi oleh suami atau kerabat prianya. Pekan lalu (13/02), harian New York Times menurunkan laporan seorang senator di Amerika Serikat, Ron Wyden yang meminta agar Google dan Apple menghapus aplikasi mereka dari platformnya.

Senator Ron menuduh jika kedua perusahaan teknologi itu telah mendukung perilaku diskriminasi pada gender, khususnya perempuan.

Aplikasi yang dibuat oleh Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi tersebut dianggap dapat membuat para pria di Arab untuk mengawasi dan mengatur istri dan perempuan lain di bawah tanggung jawabnya. Dengan aplikasi itu para pria dapat memberikan atau mencabut izin para perempuan yang hendak berpergian lewat bandara udara, serta melacak mereka dari identitas seperti paspor, seperti yang ditulis New York Times.

Dalam laporan tersebut disebutkan jika para pria kemudian dapat menyalakan notifikasi yang dikirim melalui pesan pendek, jika perempuan di bawah naungan mereka pergi menuju bandara. Tapi dalam program ABC TV, 'Four Corners' disebutkan meski aplikasi itu juga mengatur izin kepergian para perempuan, dapat juga digunakan untuk urusan seperti membayar denda parkir atau memperpanjang surat izin mengemudi.

Seperti yang diakui oleh salah satu penggunanya dan menuliskan ulasannya di Google play.

"Membuat hidup kita lebih mudah, saya mendapatkan surat mengemudi (dari aplikasi ini)," ujar pengguna Azzah Mosalli.

"Terima kasih kepada pemerintah yang membuat hidup kita lebih mudah, coba kalau ini dilakukan lebih dulu."

Situs Arab Media pun ikut membela dan menepis tuduhan jika aplikasi ini dimaksudkan untuk mengawas pergerakan perempuan. Media tersebut mengatakan jika aplikasi tersebut membebaskan kesulitan warga Arab dari pelayanan dengan birokrasi yang tidak efisien dan antrean panjang setiap harinya.

Organisasi penggiat hak asasi manusia, Human Rights Watch mengatakan jika pemerintah Arab Saudi telah menggunakan aplikasi itu sebagai bentuk diskriminasi pada perempuan. Mereka juga meminta agar platform yang menyediakan aplikasi ini, seperti Google dan Apple, agar menekan Arab Saudi untuk mengubah peraturan mahram bagi perempuan dan mengganti aplikasinya.

Ikuti berita-berita lainnya dari ABC Indonesia.

Sumber : http://www.abc.net.au/indonesian/2019-02-19/reaksi-arab-saudi-soal-aplikasi-buatannya/10826588
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA