Monday, 9 Zulhijjah 1439 / 20 August 2018

Monday, 9 Zulhijjah 1439 / 20 August 2018

Komunitas Muslim Indonesia di Australia Sambut Ramadhan

Kamis 17 May 2018 14:03 WIB

Red: Ani Nursalikah

Warga Muslim Indonesia di Kota Adelaide, Australia.

Warga Muslim Indonesia di Kota Adelaide, Australia.

Foto: ABC
Berpuasa Ramadhan di Australia memiliki tantangan tersendiri.

REPUBLIKA.CO.ID, MELBOURNE -- Kebanyakan Muslim Indonesia di Australia mengikuti keputusan Dewan Imam Australia yang memulai berpuasa Kamis (17/5). Karena sedang menjelang musim dingin, puasa di Australia termasuk yang terpendek di dunia, sekitar 12 jam.

Suhu udara di beberapa kota besar, seperti Melbourne dan Canberra bahkan sudah semakin menurun. Saat acara Satay Festival digelar di Box Hill, Melbourne, Sabtu (12/5), ABC mencoba berbincang dengan sejumlah warga Muslim Indonesia soal persiapan mereka di bulan puasa.

Tufel Musyadad

Menanggapi aksi serangan bom yang dilakukan di tiga gereja di Surabaya, Ahad (13/5), Tufel, warga Indonesia asal Semarang yang kini tinggal di Adelaide, mengecam tindakan teroris, terlebih karena mereka diketahui sebagai keluarga Muslim. "Tapi saya merasa tidak disudutkan dengan insiden tersebut, karena bagi saya ada perbedaan dalam beragama dan bernegara," ujar Tufel yang sudah tinggal di Australia sejak 2008.

Pria yang bekerja sebagai case manager justru mengaku bertanya-tanya apakah keluarga teroris telah sengaja melakukan aksinya di bulan puasa untuk menyudutkan umat Muslim. "Saya rasa kami tidak akan terganggu dan tetap menjalankan rangkaian ibadan di bulan Ramadhan dengan khidmat," katanya.

Tufel mengaku melakukan banyak melakukan diskusi dan dialog dengan warga non-Muslim di Australia bahwa Islam tidaklah memiliki konsep jihad yang seperti diberitakan. Saat ditanya soal pengalaman Ramadan di Australia, ia mengaku berpuasa di Australia lebih menyenangkan.

"Di sini terasa lebih berwarna dan lebih banyak toleransi yang harus dilakukan," ujarnya saat dihubungi lewat telepon oleh ABC di Melbourne.

Selain bekerja, Tufel juga menjadi pengisi acara siaran berbahasa Indonesia di Radio 5EBI FM, setiap Rabu sore pukul 17.00 waktu setempat.

Rita Damayanti

Sudah dua tahun Rita tinggal di Australia, sebagai siswa S2 di bidang pendidikan di Monash University, Melbourne. Tahun ini menjadi tahun terakhir studinya, sekaligus Ramadhan terakhirnya di Australia.

"Ramadhan di Australia seru, dari segi tantangan tak ada yang berarti," kata Rita.

Awalnya ia mengaku agak susah untuk mencari tempat ibadah, karena masjid yang ia tahu cukup jauh lokasinya dari rumah dan terlalu berisiko baginya jika pergi di malam hari. "Tapi setelah 15 hari terakhir saya tahu ada masjid yang lebih dekat," tambahnya.

Rita mengaku ada perbedaan tarawih di Indonesia dengan di Australia, salah satunya adalah tidak ada ceramah dan waktu mulai yang juga disesuaikan sehingga tidak langsung selepas shalat Isya.

"Yang membuat kangen adalah ngabuburit (menunggu buka) dan berbuka puasa bersama keluarga, serta membeli persiapan untuk Lebaran," katanya.

Muhammad Rayhan Sudrajat

Rayhan yang berasal dari Jawa Barat baru berada di Melbourne sekitar dua bulan. Ia pindah ke Australia untuk melanjutkan studinya di bidang musik di Monash University selama dua tahun ke depan.

Ia pernah ke Melbourne di bulan puasa sebelumnya, tapi Ramadhan tahun ini akan menjadi yang pertama kali baginya berpuasa sebulan penuh di Melbourne. "Tidak ada kekhawatiran untuk Ramadhan pertama, karena saya membawa istri juga dan kita berdua sudah membuat program bersama untuk sahur," katanya.

Rayhan mengaku sudah membuat jadwal untuk Ramadan, termasuk rencana apa yang akan dimasak dan menunya. "Kita masak di malam hari untuk berbuka, kemudian sisanya dimasukkan kulkas dan tinggal dipanaskan saat sahur," katanya.

Untuk urusan dapur, mereka pun berbagi tugas dimana kadang Rayhan yang memasak dan istrinya mencuci piring atau sebaliknya.

Yana Forgione

Sudah 16 tahun Yana tinggal di Melbourne dan kini bekerja bersama perusahaan Australia Post di Melbourne. Ia mengaku tantangan berpuasa lebih terasa saat musim panas, dimana siang hari lebih panjang sehingga waktu berbuka puasa lebih malam.

"Ada dua anak saya, usia 14 tahun dan enam tahun, yang besar sudah ikut berpuasa dan bagi dia tantangannya adalah sehabis bangun kemudian langsung makan," katanya.

Meski sebagai ibu yang bekerja, Yana selalu menyempatkan memasak setiap hari. "Sehabis pulang kantor, sebelum berbuka puasa, langsung memasak, karena suami juga berpuasa," katanya.

Menurutnya hal yang paling ia rindukan dari Indonesia di bulan puasa, serta di bulan-bulan lainnya, adalah mendengarkan lantunan azan.

Darlina Firstama

Selain bekerja, Darlina adalah perempuan yang memiliki segudang aktivitas, termasuk sibuk menjadi relawan di sejumlah kegiatan, serta siaran di sebuah radio komunitas di Melbourne. Tapi di saat Ramadhan ia mengaku masih bisa pulang tepat waktu untuk bisa berbuka puasa bersama keluarganya.

"Kantor saya cukup fleksibel, jadi bisa pulang pukul 16.00, masuk pukul 08.30. Tapi tidak ada istirahat makan siang," ujarnya.

Agar dapat pulang kantor lebih cepat ia telah mendapatkan persetujuan dari pimpinannya di kantor. "Yang jadi kendala di bulan puasa adalah kalau ada acara-acara kantor, mereka bingung dan minta penjelasan mengapa saya tidak ikut makan atau minum," katanya.

Menurutnya, Ramadhan menjadi satu-satunya kesempatan dimana ia dan keluarganya bisa berkumpul di meja makan untuk sahur dan berbuka puasa.

Agung Wicaksono

Sudah enam tahun pria asal Jawa Timur ini tinggal di Melbourne dan sekarang sedang berada di semester terakhirnya bersama Swinburne University. Tinggal sendirian di luar negeri membuat Agung benar-benar mandiri, terutama di bulan Ramadhan.

"Saya masak sendiri hampir setiap hari, Biasanya saya masak di malam hari, jadi bisa sekalian berbuka dan untuk sahur," kata Agung.

Jika sedang ada kuliah hingga sore, Agung biasanya pergi ke masjid di kampusnya untuk berbuka puasa atau tarawih. Agung belum pulang kampung saat Lebaran sejak tiga tahun lalu. Karenanya ia sangat merindukan keluarga besarnya dengan acara silaturahim.

"Pengalaman Ramadhan disini, sebagai minoritas, kita benar-benar diuji keimanan. Karena restoran buka siang hari, mayoritas orang tidak berpuasa, situasinya beda dengan di Indonesia," katanya.

Ingin tahu seperti apa Ramadhan dirayakan oleh komunitas Muslim, termasuk komunitas Muslim Indonesia di Australia? Dapatkan informasinya hanya di ABC Indonesia dan kunjungi pula halaman Facebook.com/ABCIndonesia

Sumber : http://www.abc.net.au/indonesian/2018-05-17/sambut-ramadan-australia/9767934
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA