Rabu, 9 Muharram 1440 / 19 September 2018

Rabu, 9 Muharram 1440 / 19 September 2018

Australia Kekurangan Tenaga Kerja Pemetik Buah

Senin 15 Januari 2018 13:58 WIB

Red: Ani Nursalikah

Buah persik.

Buah persik.

Foto: ABC

REPUBLIKA.CO.ID, MELBOURNE -- Musim panen sejumlah buah-buahan sudah dimulai, namun para petani di Australia sedang mengalami kekurangan tenaga bantuan dan mereka kebingungan kemana perginya para pekerja musiman.

Petani buah di negara bagian Victoria bisa kekurangan hingga 3.000 pekerja musiman untuk memanen buah. Mike Crisera dari organisasi Fruit Growers Victoria mengatakan situasinya kini mengkhawatirkan.

"Terlebih dengan buah ceri dan buah-buahan berbiji yang tidak bisa kita biarkan di pohon dalam waktu lama," kata Mike.

Ia mengatakan sulit berapa jumlah kekurangan tenaga kerja secara pastinya, tetapi kekurangan tersebut sangatlah signifikan. Menurutnya, di daerahnya kekurangan tenaga kerja hingga 2.000 sampai 3.000 orang. Mike mengatakan para petani mencari tenaga kerja lewat program tenaga kerja musiman yang dikelola pemerintah federal untuk membantu kekurangan tenaga di masa depan.

Buah-buahan dibiarkan membusuk

Di negara bagian Tasmania, satu peternakan berry telah menghubungi organisasi Fruit Growers Tasmania untuk mencari lebih banyak tenaga kerja setelah mereka terpaksa membiarkan ratusan ton buah membusuk karena tidak cukup banyak pemetik yang tersedia. Phil Pike, manajer pengembangan bisnis di Fruit Growers Tasmania, mengatakan para petani di Tasmania tidaklah sendirian mengalami kekurangan tenaga kerja ini.

"Kami mendengar kesulitan ini dialami di seluruh negara bagian," kata Phil.

Pajak backpacker menjadi masalah

Sejumlah orang sedang memanen buah melon yang besar

Pekerja pemetik melon di Queensland

Eliza Rogers

"Kami dan para petani senior mengira pajak bagi backpacker dan reputasi yang rusak [jadi penyebabnya]," ujar Phil.

Pajak tersebut diperkenalkan oleh pemerintah federal Australia pada awal 2017 dan dengan besarnya pajak bagi pemegang visa jenis working holiday sebesar 15 persen dari penghasilan pertama. "Ketika pemegang visa pergi setelah dua tahun, yang terjadi di akhir 2017, akankah jumlah pemegang visa tahun pertama 2018-2019 datang? Pada tahap ini mereka tidak ada," katanya.

Dia mengatakan angka sebenarnya sulit dilacak karena pergerakan pekerja musiman sangatlah cepat. "Kami tahu, rata-rata, ada sekitar 6.000 pekerja yang dibutuhkan setiap tahun tapi kami punya budidaya baru dan melakukan ekspansi besar-besaran. Saya berani mengatakan, jika pada akhir musim ini kita mengumpulkan pekerja, maka kebutuhan akan pekerja musiman akan lebih tinggi daripada yang tersedia," ujarnya.

Dave Jennings dulunya adalah petani stroberi dari Cygnet yang kehilangan ratusan ton buah karena kekurangan pekerja musiman. Meskipun sudah mengiklankan lowongan kerja di situs Tasmanian Agriculture Jobs pada pekan ini, ia mengatakan tanggapan tidak mencapai kebutuhan di saat panen.

"Pada tahap ini, mungkin sudah terlambat bagi kita. Di November dan awal Desember kami kehilangan 300 ton buah yang dibiarkan membusuk," katanya.

Memperluas peluang bagi para backpacker

Dave juga percaya semakin banyak jumlah pekerjaan yang tersedia juga jadi penyebab masalah ini. "Tenaga kerja hanya menyebar terlalu sedikit. Setiap petani di luar sana tahu persis apa masalahnya tapi tidak ada diantara mereka yang mengatasi masalahnya," katanya.

Dave mengatakan memperpanjang visa working holiday sampai tiga tahun dan memperluas kesempatan bagi backpacker sama seperti Program Pekerja Musiman yang menarik para pekerja dari Kepulauan Pasifik, bisa membantu mengatasi kekurangan tenaga kerja saat panen.

Berita ini disadur dari laporan aslinya dalam bahasa Inggris yang bisa dibaca disini.

 

 

Sumber : http://www.australiaplus.com/indonesian/bisnis-investasi/australia-kurang-pekerja-musiman/9330814
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES