Monday, 19 Zulqaidah 1440 / 22 July 2019

Monday, 19 Zulqaidah 1440 / 22 July 2019

Setan Jawa Tampilkan Dunia Mistis Jawa di Melbourne

Sabtu 25 Feb 2017 08:15 WIB

Red: Ani Nursalikah

Film Setan Jawa diiringi penampilan gamelan dan simfoni orkestra Melbourne.

Film Setan Jawa diiringi penampilan gamelan dan simfoni orkestra Melbourne.

Foto: ABC

REPUBLIKA.CO.ID, MELBOURNE -- Australia dan Indonesia memiliki budaya yang jelas berbeda. Tapi lewat penuturan bahasa musik, meski keduanya belum tentu bertemu, tetap menghasilkan sebuah harmoni.

Film karya Garin Nugroho Setan Jawa menjadi salah satu pertunjukan yang diandalkan dalam festival budaya dan seni Asia TOPA, yang sedang digelar di Melbourne. Film bisu yang dirilis di Jakarta pada September 2016 ini menampilkan kisah cinta dan pengorbanan dengan balutan mistis lewat alunan musik gamelan yang ditampilkan secara langsung di panggung.

Khusus untuk pemutarannya di Asia TOPA, Setan Jawa akan memasukan unsur musik barat, yakni simfoni orkestra. Sebuah kolaborasi yang tentunya tidaklah mudah bagi mereka yang terlibat.

"Ada nada dan irama yang berbeda dari dua dunia, yakni simfoni dan musik Jawa yang tidak kita kenal sebelumnya," ujar Iain Grandage, komposer sekaligus konduktor Melbourne Symphony Orchestra yang akan mengiringi film Setan Jawa.

Tetapi menurut Iain, meski terdengar sebagai sebuah proyek yang ambisius, tetap ada titik dimana keduanya bisa digabungkan. "Ada beberapa nada yang sama antara orkestra dengan gamelan, setelah kita temukan kesamaannya, kita membuatnya sebuah harmoni," ujar Iain saat ditemui ABC Australia Plus di sesi latihan Setan Jawa, Kamis siang (23/2).

Tentu ada banyak tantangan dan hambatan saat kedua musik digabungkan, tetapi Iain menilai lebih banyak hal-hal lain yang membuatnya senang dalam melakukan proyek ini. "Ada percakapan, ada perdebatan, kebersamaan, semua dalam satu karya. Ini sangatlah menyenangkan dan senang bisa berkerja sama dengan musisi Jawa," katanya.

Gamelan at the front and MSO at the back

Asia TOPA menghadirkan kolaborasi unik yang mengabungkan budaya barat dan timur

ABC: Grace Fang

Bukan sekadar kolaborasi

Adalah Rahayu Supanggah yang pertama kali diajak Garin untuk menjadi komposer dalam film bisunya. Nama Rahayu sudah dikenal baik di dalam maupun di luar Indonesia sebagai seniman musik Jawa, khususnya gamelan.

Rahayu merasa bekerja sama dengan Melbourne Symphony Orchestra adalah mimpi yang menjadi kenyataan. Tapi baginya, kolaborasi ini memiliki arti yang lebih mendalam.

"Kolaborasi selalu menjadi hal yang menarik, cara terbaik untuk belajar tentang orang lain, berbagi, saling mengerti, dan akhirnya adalah saling menghargai," kata Rahayu yang mengaku sudah bekerja sama dengan Garin selama 10 tahun.

"Kolaborasi terbaik adalah lewat seni, bukan dalam militer, ekonomi, atau politik. Kolaborasi yang terbaik adalah saat kita bisa jadi saling mengerti."

Rahayu mengaku jika gabungan simfoni orkestra dan musik gamelan tidaklah harus selalu bertemu. "Musik sebenarnya bukanlah bahasa yang universal, kadang caranya berbeda-beda. Tapi disini kita saling merasakan. Saya dan Iain sudah pernah ketemu beberapa tahun, jadi kita bukan baru kenal dalam hitungan hari."

Kolaborasi sebagai sebuah pembelajaran pun diakui oleh Garin. Sebagai sutradara dalam pertunjukan seni ini, Garin sangat menikmati prosesnya.

"Ada hal yang tidak terduga, ada misteri yang tidak bisa diprediksi, dan saya paling suka sesuatu yang mengejutkan dan menengangkan, kemudian menghasilkan hal yang baru," ujar Garin yang sedang merayakan 35 tahun dirinya berkarir sebagai seniman.

Bagi Iain yang juga pernah ke Indonesia, khususnya ke Solo untuk mengetahui lebih dalam soal gamelan, kolaborasi ini sangatlah memuaskan dirinya. "Kedua elemen musik bergabung, tidak ada satu yang lebih menonjol dibandingkan lainnya... karena masing-masing memiliki bagiannya masing-masing dalam sebuah karya," kata Iain.

SetanJawaMistis_Supplied_23022017

Film bisu Setan Jawa karya Garin Nugroho menonjolkan budaya mistis Indonesia.

Foto: Arts Centre Melbourne

Mistisme, budaya tak terpisahkan dari Indonesia

Tema besar dalam film Setan Jawa ini adalah mistisme dengan muatan mitologi dan magis yang cukup kental. "Mistisme menjadi bagian terpenting dalam kehidupan masyarakat Indonesia, baik dalam sosial, kehidupan pribadi, ekonomi, politik. Presiden Indonesia pun kalau tidak ada cerita mistisnya, tidak akan pernah terpilih di Indonesia," ujarnya sambil tertawa.

Garin merasa tidak khawatir jika penonton Australia kurang memahami atau bahkan tidak percaya soal mistis.

"Meski mereka tidak percaya atau tidak paham, tetapi [mistis dan horor] selalu menjadi daya tarik di dunia, ditambah ada unsur film bisu yang selalu dianggap terbaik dalam sejarah sinema, ada lagi unsur orkestra dan gamelan, semua akan menjadi daya tarik yang saling melengkapi," jelasnya.

Sebagai 'orang Barat', Iain pun merasa kekentalan mistis dalam pertunjukan ini. "Bagi saya, gamelan ini alat musik yang mengunggah, nyaman didengar namun penuh dengan mistis, mengingatkan adanya dunia lain di luar pemahaman kami yang tinggal di dunia Barat," ujar Iain.

Pertunjukan Setan Jawa hanya diputar sekali, yakni Jumat malam (24/2) di Hammer Hall, Arts Centre Melbourne. Selain Garin Nugroho, sejumlah seniman Indonesia pun akan tampil dalam festival Asia TOPA hingga April mendatang.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA