Sunday, 18 Zulqaidah 1440 / 21 July 2019

Sunday, 18 Zulqaidah 1440 / 21 July 2019

Tony Abbott Kembali Kritik Malcolm Turnbull

Jumat 24 Feb 2017 16:16 WIB

Red: Ani Nursalikah

Tony Abbott dan PM Australia Malcolm Turnbull.

Tony Abbott dan PM Australia Malcolm Turnbull.

Foto: abc

REPUBLIKA.CO.ID, MELBOURNE -- Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull mengkritik mantan PM Tony Abbott dan menyebut pemerintahannya saat ini mencapai hasil lebih banyak dibandingkan pemerintahan pendahulunya itu.

Tony Abbott kemarin mengecam Pemerintahan Turnbull dengan mengatakan para pemilih konservatif akan pindah ke Partai One Nation karena Partai Koalisi yang kini memerintah semakin mirip "Partai Buruh". PM Turnbull kepada Radio 3AW Melbourne menegaskan, pihaknya tidak akan membahas pembicaraan pribadinya dengan Abbott, namun mengatakan "dia tahu apa yang dia lakukan".

PM Turnbull menambahkan, "setiap anggota pemerintahan harus bertanya apakah mereka berkontribusi pada keberhasilan pemerintah?"

Dia menolak rencana Abbott dalam menghindari kekalahan pemilu - termasuk kebijakan menghentikan belanja baru, mengurangi pendatang, mengakhiri subsidi energi terbarukan, merombak Komnas HAM serta mereformasi Senat. PM Turnbull mengatakan pemerintahannya justru berhasil melakukann perubahan kebijakan bukannya sibuk membicarakan hal itu.

"Faktanya pemerintahan saya memiliki rekor pencapaian," ujarnya.

"Dalam enam bulan terakhir sejak pemilu, kami mencapai hasil lebih banyak di Senat dengan kursi lebih sedikit di DPR dan di Senat dibandingkan periode tiga tahun sebelumnya," kata PM Turnbull.

Senator faksi pemerintah Mathias Cormann kepada Sky News mengatakan sedih dengan komentar Abbott. "Dia tidak membantu upaya-upaya kami, tidak membantu negara kita, tidak membantu dirinya sendiri," kata Senator Cormann.

"Kebanyakan yang dia katakan itu keliru dan tidak sejalan dengan yang dia lakukan saat jadi perdana menteri," tambahnya.

"Pengurus partai tidak sependapat dengan pandangan Tony, pengurus partai kompak di bawah kepemimpinan Malcolm Turnbull," ujar Cormann.

'Fokus isu kebutuhan sehari-hari'

Sementara itu Menteri Industri Pertahanan Christopher Pyne juga menepis saran kebijakan yang sampaikan Abbott.

"Kami tidak akan menempuh langkah membekukan kebijakan imigrasi misalnya seperti diinginkan Tony Abbott sebab akan menimbulkan bencana bagi daerah seperti Northern Territory, Australia Selatan, Tasmania, kebanyakan daerah di luar kota-kota besar," kata Pyne.

"Kami tidak akan menghentikan belanja. Tony Abbott mencoba hal itu tahun 2014 dalam APBN saat kepemimpinannya. Namun tentu saja begitu banyak RUU yang menumpuk di Senat karena tidak bisa lolos jadi UU," tambahnya.

Pyne membanti Partai Koalisi senasib dengan Partai Buruh dalam era kekacauan kemepimpinan Kevin Rudd/Julia Gillard. "Saat Tony Abbott jadi pemimpin, salah satu polling menempatkan dia 30 persen dibandingkan Bill Shorten 48 persen, sebagai perdana menteri yang difavoritkan," ujarnya.

"Jadi kami sudah di jalur yang benar dengan Malcolm Turnbull dan kebijakan-kebijakan Pemerintah," tambahnya.

"Lebih penting kalau kita fokus pada isu kebutuhan sehari-hari yang menjadi perhatian rakyat Australia," ujarnya.

Anggota faksi pemerintah lainnya Josh Frydenberg juga mengemukakan pernyataannya, bahwa sejumlah kebijakan yang coba dilakukan Abbott misalnya ABCC justru jadi UU di bawah kepemimpinan Turnbull.

"Sejak pemilu terakhir, kita punya 48 buah UU lolos di parlemen dan beberapa UU itu merupakan sesuatu yang Tony Abbott pernah coba lakukan namun diwujudkan Pemerintah yang sekarang," katanya.

Pemimpin oposisi Bill Shorten mengatakan Australia ingin melupakan "masalah terkait kepribadian" antara Turnbull dan Abbott.

Shorten mengatakan kepada Channel Ten pihaknya ingin fokus pada masalah kebijakan.

"Bagi saya, itu bukan apakah harus Tony Abbott atau Malcolm Turnbull. Kita tahu mereka saling membenci," katanya.

"Masalah sebenarnya adalah apakah anak-anak kita bisa membeli rumah? Dapatkah Anda mampu mengunjungi dokter?" tambahnya.

Diterbitkan Pukul 10:45 AEST 24 Februari 2017 oleh Farid M. Ibrahim dari artikel berbahasa Inggris.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA