Tuesday, 12 Jumadil Awwal 1444 / 06 December 2022

Tiga Cara Skrining Kanker Serviks

Rabu 07 May 2014 09:16 WIB

Rep: Desy Susilawati/ Red: Indira Rezkisari

Deteksi dini kanker serviks sebaiknya dilakukan tiga tahun berturut-turut.

Deteksi dini kanker serviks sebaiknya dilakukan tiga tahun berturut-turut.

Foto: Prayogi/Republika

REPUBLIKA.CO.ID, Upaya preventif terhadap kanker serviks bisa dilakukan melalui skrining kanker ini. Skrining kanker serviks bisa dilakukan dengan tiga cara.

Pertama, dengan inspeksi visual dengan asam asetat (IVA). Kedua, dengan papsmear konvensional dan papsmear berbasis cairan (liquid-based cytology). Ketiga, melalui tes HPV ataupun HPV DNA genotyping.

Screening dengan IVA dilakukan dengan mengoleskan asam asetat lima persen pada leher rahim. Dokter akan menunggu selama 30 sampai 60 detik untuk melihat reaksi leher rahim. “Jika ada lesi prakanker, bagian yang terkena olesan asam asetat tersebut akan berubah warna menjadi putih, namun jika normal, tidak ada perubahan warna,” ujar ahli patologi klinik, dr Richard Kosasih SpPK, memaparkan.

Selain itu, papsmear konvensional dilakukan oleh dokter dan tenaga ahli dengan mengambil sampel sel leher rahim menggunakan bantuan pengerik atau sikat. Sampel kemudian dioleskan ke gelas slide untuk dikirimkan ke laboratorium. Dokter patologi kemudian akan memeriksanya dengan bantuan mikroskop.

“Tujuannya untuk mengetahui ada atau tidaknya radang, infeksi atau perubahan sel kearah keganasan,” kata Richard.

Untuk pemeriksaan sitologi cairan, dokter atau tenaga ahli akan mengambil sampel dari leher rahim. Sampel lalu dimasukkan ke vial atau botol yang berisi cairan.

Sel-sel sampel segera dikirim ke laboratorium. Sampel dibuat menjadi slide dan diwarnai dengan pewarna khusus sehingga sel-sel tersebut menjadi lebih jelas. Preparatnya berupa irisan tipis. Lapisan tipis ini memungkinkan sel-sel terlihat lebih jelas sehingga mengurangi kesalahan interpretasi hasil.

Bagaimana dengan pemeriksaan DNA-HPV? Richard menjelaskan metode yang dipakai, yaitu hibridasi southern blot atau pemakaian polymerase chain reaction (PCR) yang sangat sensitif.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA