Jumat, 16 Zulqaidah 1440 / 19 Juli 2019

Jumat, 16 Zulqaidah 1440 / 19 Juli 2019

Gaji Selalu Kurang? Ini Sebabnya

Rabu 13 Nov 2013 08:38 WIB

Red: Endah Hapsari

Hitung gaji dengan cermat/ilustrasi

Hitung gaji dengan cermat/ilustrasi

Foto: shutterstock

REPUBLIKA.CO.ID, Memiliki penghasilan, tapi selalu merasa kurang? Sebenarnya, kekurangan bukan berasal dari besar atau kecilnya penghasilan. Selama perencanaan keuangan dilakukan dengan tepat, gaji diyakini sanggup bertahan hingga tanggal terakhir tiap bulan. 

“Pada titik perencanaan ini banyak yang tidak peka,” kata perencana keuangan Aidil Akbar Madjid. Kendala merencanakan keuangan pada tiap individu lahir dari beberapa faktor. Salah satunya, diri sendiri. 

Seseorang terkadang tidak sadar akan nilai penghasilan yang ia miliki. Misalnya, bergaji Rp 3 juta, tapi memiliki pengeluaran bulanan Rp 5 juta. Maka, merencanakan keuangan pun jadi tidak mungkin. 

Kebiasaan hidup yang tidak disiplin menjadi titik permasalahannya. Individu kadang tidak berkaca dengan baik. Jebolnya angka keuangan dalam simpanan akibat dari perbuatan diri sendiri. Seorang karyawan tentunya tidak bisa meniru gaya hidup manajer. Begitu pula seorang manajer, tak bisa mengikuti gaya hidup direktur. Pada dasarnya, gaya hidup yang harus mengikuti penghasilan. “Posisinya jangan diputar balik,” lanjut Aidil. 

Masalah yang kedua bisa datang dari lingkungan. Sebuah tren terkadang tidak sadar menjadi “beban” bagi seseorang untuk mengikuti alurnya. Misalnya, ibu-ibu rumah tangga yang berkumpul saat menjemput anaknya di sekolah pasti akan membahas sebuah tren. Pakaian dan aksesorinya menjadi topik yang sering diperbaharui. Ketika muncul sebuah tren mode hijab baru, perempuan akan tergiur untuk membelinya. 

Bujet belanja untuk hijab baru sebenarnya tidak ada karena yang lama masih bagus. Tapi, dorongan untuk tampil trendi tak terbendung. Alhasil, individu jadi tak terkendali membelanjakan uangnya. Keinginan seperti ini yang membuat seolah penghasilan selalu tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup. 

Padahal, apabila dikelola secara cerdas dan disiplin, gajinya akan mencukupi. “Boleh saja memiliki gaya hidup tinggi, asalkan ada dananya,” jelas Aidil yang juga senior wealth and financial advisor dari International Association of Registered Financial Consultants Indonesia ini. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA