Monday, 6 Sya'ban 1441 / 30 March 2020

Monday, 6 Sya'ban 1441 / 30 March 2020

Penyebab Autisme Didominasi Faktor Genetik

Sabtu 30 Sep 2017 05:25 WIB

Rep: Christiyaningsih/ Red: Winda Destiana Putri

Autisme (ilustrasi)

Autisme (ilustrasi)

Foto: Edwin Dwi Putranto/Republika

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah studi memberikan informasi terbaru mengenai penyebab autisme. Sekelompok peneliti dari Ichan School of Medicine di New York mengobservasi mengapa seseorang bisa mengidap autis. Dari hasil penelitian itu, peneliti memperoleh kesimpulan bahwa 83 persen autisme disebabkan oleh faktor gen.

Autism Spectrum Disorder (ASD) cenderung diderita oleh keluarga yang memiliki gen tertentu. Namun para ahli mengatakan pewarisan gen tersebut kepada keturunannya adalah proses yang sangat rumit.

Para peneliti yang terlibat dalam studi ini menganalisa kembali warga keturunan Swedia yang sebelumnya pernah menjadi objek penelitian Stanford University. Sebanyak 2,6 juta kakak beradik, 37.570 pasangan kembar, dan 500 ribu pasangan saudara sepupu dilibatkan menjadi responden.

Dari total keseluruhan responden, terdapat 14.516 anak yang didiagnosis mengidap ASD. ASD atau autisme ditandai dengan adanya kesulitan berkomunikasi dan berinteraksi dengan lingkungan sosial. Sinyal-sinyal autisme seringkali tidak disadari oleh para orang tua sebelum anaknya menginjak umur dua atau tiga tahun.

Kesimpulan yang dihasilkan oleh studi Ichan School of Medicine ini jauh berbeda dengan hasil penelitian terdahulu. Lebih dari 50 tahun autisme dipercaya terjadi akibat kurangnya kasih sayang dan perhatian dari ibu kepada anaknya.

Sejumlah studi sebelumnya juga memberikan angka bervariasi terkait hubungan gen dan penyebab autisme. Pada 2011 Stanford University melaporkan kemungkinan terjadi autisme akibat warisan biologis hanya mencapai 38 persen.

Tiga tahun kemudian institusi yang sama kembali mengumukan penelitian mengenai autisme. Pada 2014 disebutkan autisme yang disebabkan oleh faktor genetik angkanya kurang dari 50 persen, dilansir laman Sciencealert.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA