Wednesday, 20 Zulhijjah 1440 / 21 August 2019

Wednesday, 20 Zulhijjah 1440 / 21 August 2019

Perancang Busana Muslimah Diminta Tak Mati Gaya

Jumat 12 Apr 2013 21:45 WIB

Rep: Desy susilawati/ Red: Karta Raharja Ucu

Hijabers Community (Ilustrasi)

Hijabers Community (Ilustrasi)

Foto: REPUBLIKA

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebagai pasar besar, Indonesia memiliki banyak perancang busana Muslim. Karena persaingan kian ketat, diperlukan kreativitas tinggi untuk menjaga kelanggengan merek busana Muslim.

Menurut Managing Director Hijup.com, Diajeng Lestari, untuk menjaga kelanggengan sebuah merek busana Muslim, diperlukan karakter, kualitas dan kreativitas. Memang, setiap merek busana memiliki karakter, karena hal itu memengaruhi hal yang dibuat si perancang busana.

"Jika produk yang dihasilkan karena ikut-ikutan yang sudah ada, bukan trendsetter, maka kreativitas akan sangat terbatas," ujarnya disela acara bertema 'Indonesia: The World Islamic Fashion Center' yang diselenggarakan oleh Hijup.com di FX, Jakarta, Jumat (12/4).

Selain itu, perlu juga diperhatikan kualitas produk. Misalnya bahan, kancing, warna, dan lainnya. Pilih yang berkualitas, jangan yang mudah rusak. "Jika konsumen membeli dan memiliki pengalaman buruk dengan merek busana kita, kepercayaan mereka akan turun karena tidak terjaminnya kualitas produk kita," ujarnya menjelaskan. Sementara untuk menunjang karakter suatu busana, diperlukan kreativitas tinggi.

Desainer Busana Muslimah, Irna Mutiara mengamini pernyataan Diajeng. Menurutnya, agar sebuah merek busana Muslimah awet di pasaran, busana tersebut harus memiliki identitas. Buat konsep terlebih dahulu, siapa target market, berapa usianya dan hal lainnya, kata Irna.

Selain itu, Erna mengatakan liha pula konsep yang kita usung sudah ada yang pakai atau belum. Jangan menjadi penjiplak, tapi jadilah pencipta tren baru. "Konsep ini jarus dijaga. Jangan sampai berhenti ditengah jalan. Dan jangan sampai konsep yang sudah ditetapkan berubah," ujarnya menyarankan.

Setelah itu, catat semua konsep tersebut. Tulis pula apa kelemahan dan kekuatan merek yang kita jual. "Kemudian benahi cara produksi, cara menjual dan cara memasarkannya," ujarnya mengakhiri.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA