Agar Tetap dalam Kelompok
Senin , 05 Sep 2016, 14:46 WIB

Haji

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tawaf qudum (selamat datang) biasanya dilakukan tak lama setelah jamaah tiba di Makkah. Karena masih lelah setelah perjalanan dari Tanah Suci atau Madinah biasanya jamaah banyak yang kaget. Akibatnya jamaah sering hilang atau tersesat.

Untuk mengantisipasinya, sebelum berangkat ke Masjidil Haram jamaah hendaknya mengenali letak hotel atau pondokannya. Minta informasi kepada yang lebih tahu jalan menuju hotel dari masjid, atau kalau naik kendaraan lewat mana. Baik juga jika buat denah hotel atau pondokan. Usahakan berangkat dari maktab secara berombongan. Tiap rombongan ada kepala rombongan yang sudah mengenal baik wilayah di sekitar Makkah.

Kegiatan tawaf dan sai bisa berlangsung satu hingga tiga jam. Bila mulainya dinihari biasanya langsung diteruskan dengan Shalat Subuh. Saat itu udara sangat dingin. Lantai Ka'bah dan pelataran sai pun kadang terasa sedingin es. Sebelum berangkat pastikan jamaah sudah makan atau paling tidak mengonsumsi makanan ringan. Tak perlu terburu-buru berangkat ke masjid. Pastikan semua persiapan sudah sempurna.

Setelah sampai di Masjidil Haram jamaah akan tawaf secara berombongan atau dalam regu-regu kecil. Lebih baik bentuk kelompok kecil. Kelompok kecil akan lebih mudah untuk bergerak dalam kerumunan ribuan jamaah. Selain itu akan lebih mudah dalam koordinasi karena bisa saling kenal. Hapalkan benar jamaah masuk dari pintu mana, sehingga saat keluar bisa tetap di pintu yang sama.

Buat kesepakatan dimana lokasi bertemu setelah kegiatan tawaf dan sai selesai, dan jam berapa. Bisa juga buat kesepakatan bertemu sebelum sai. Misalnya di bawah jam atau dekat zamzam. Jadi kendati saat tawaf berpisah, sai bisa tetap bersama-sama lagi.

Selama musim haji pelataran Ka'bah tak pernah sepi. Waktu yang paling padat biasanya seusai Shalat Maghrib sampai Isya, dan selepas Shalat Shubuh. Yang agak lengang biasanya tengah malam hingga satu jam menjelang Shalat Subuh dan waktu Dhuha sampai Shalat Zuhur. Tapi ini pun tak bisa dipastikan.

Tawaf dimulai dari garis coklat yang sejajar dengan Hajar Aswad. Di sini biasanya terjadi kepadatan. Titik-titik kepadatan terletak antara Rukun Yamani hingga Hajar Aswad. Sebaiknya begitu mulai masuk Rukun Yamani jamaah agar bergerak keluar, sebab jika terjebak di sekitar Hajar Aswad akan sulit untuk berjalan.

Untuk jamaah yang fisiknya lemah, lebih baik tawaf di lingkaran luar, jangan terlalu masuk ke dekat Ka'bah. Karena pasti akan berdesak-desakan. Sedangkan bagi yang fisiknya sama sekali tak kuat untuk berjalan bisa menyewa kursi roda dan pendorongnya baik untuk tawaf maupun sai.

Usahakan saat tawaf tidak terbebani dengan membuka-buka catatan. Hapalkan saja doa-doa pendek sehingga jamaah bisa konsentrasi dan khusyuk.

Jika lantai dasar penuh, jamaah bisa melakukan tawaf di lantai dua atau tiga. Namun jarak tempuh tawaf di lantai dua bisa dua kali lipat lebih jauh jika dibanding tawaf di lantai dasar. Hanya saja kondisinya tidak terlalu padat dan tidak berdesak-desakan.

Usai tawaf jamaah akan shalat di belakang makam Ibrahim. Agar shalat bisa lebih khusyuk, lakukan secar bergantian. Rekan yang sudah selesai shalat menjaga rekannya yang shalat kemudian dari kemungkinan gangguan karena lalu lalang ribuan jamaah.

Lokasi sai terletak di dalam Ka'bah juga. Banyak jamaah kebingungan mencari letak bukit Shafa dan Marwa. Padahal lokasi itu sudah kini sudah menyatu dengan Ka'bah. Kepadatan juga terjadi di jalur sai. Selain itu biasanya di sini jamaah sudah kelelahan setelah tawaf. Sama dengan tawaf, sai juga bisa dilakukan di lantai dua dan tiga. Hanya saja lintasannya semua mendatar tidak seperti di lantai dasar yang harus mendaki bukit Shafa dan Marwa.

Usai sai usahakan tetap berkelompok saat tahalul. Sebaiknya jika tidak ingin gundul, lakukan tahalul secara bergantian. Untuk itu gunting sudah harus disiapkan dari pondokan. Waspadalah  dengan orang-orang yang menawarkan jasa untuk memotong rambut.

Saat tawaf qudum ini biasanya timbul masalah. Karena biasanya jamaah sedang lelah, belum tahu situasi, tergesa-gesa, atau kaget melihat kerumunan ribuan orang berdesak-desakan. Karena itu usahakan tetap dalam kelompok. Untuk tawaf selanjutnya, jamaah biasanya sudah berani melakukan sendiri-sendiri. 

Redaktur : Agung Sasongko