Kamis, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Kamis, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Batik Lokatmala Sukabumi yang Mendunia

Senin 09 Sep 2019 12:10 WIB

Red: Nora Azizah

Seorang siswi belajar membatik menggunakan canting di Museum Tekstil, Jakarta / Ilustrasi

Seorang siswi belajar membatik menggunakan canting di Museum Tekstil, Jakarta / Ilustrasi

Foto: Republika/Mahmud Muhyidin
Lokatmala diambil dari nama Sunda yang berarti bunga edelweis.

REPUBLIKA.CO.ID, SUKABUMI -- Batik Lokatmala Sukabumi, Jawa Barat, yang merupakan batik khas dari daerah Sukabumi, saat ini sudah dikenal di berbagai negara, baik di Eropa, Asia, dan Amerika. "Batik Lokatmala ini motifnya mengambil kearifan lokal dari Sukabumi seperti biji pala, wijaya kusuma dan lain sebagainya. Bahkan ada delapan motif yang sudah kami patenkan," kata pemilik Batik Lokatmala Sukabumi Fonna Melania di Sukabumi, Ahad (8/9).

Informasi yang dihimpun, Batik Lokatmala ini mulai diproduksi sejak 2009. Ide membuat batik ini berawal saat pemiliknya membeli batik dan menelusuri sejarah membatik Sukabumi.

Ternyata meskipun tidak ada bukti foto atau lainnya, sejak dahulu warga Sukabumi sudah ada yang membatik. Dinamakan lokatmala untuk batik ini karena lokatmala adalah nama Sunda untuk bunga Edelweis.

Maka dari itu, ia mencoba mengembangkan dan mempromosikan batik khas Sukabumi mulai dari mulut ke mulut hingga saat ini pasarnya sudah hingga ke mancanegara. Bahkan, motif untuk batik cap sudah ada 48 motif dan tulis tidak terbatas tergantung dari pesanan dan pengembangan perajin.

Selain itu, Fonna pun secara rutin memberikan edukasi bahwa batik merupakan proses bukan dicetak menggunakan mesin. Edukasi yang dilakukannya ini agar masyarakat tidak salah kaprah soal batik, sebab batik adalah proses bukan motif.

Adapun harga yang ditawarkan cukup bervariasi yakni mulai dari Rp100 ribu untuk jenis batik cap dan mulai dari Rp1 juta untuk batik tulis. Setiap konsumen bisa memesan motif batik sesuai dengan keinginannya.

"Sekarang omzet per bulannya sudah mencapai sekitar Rp50 juta. Untuk promosinya kami mengarah kepada kaum milenial dan juga menggunakan media sosial. Beberapa negara yang kerap memesan Batik Lokatmala seperti berbagai negara Asean, Eropa dan yang paling sering adalah Pakistan karena saya rutin memberikan pelatihan membatik sekaligus mengenalkannya kepada ibu duta besar dari berbagai negara," tambahnya.

Namun di sisi lain, Fonna mengatakan yang menjadi kendala bukanlah pemasaran karena promosi gencar dilakukan. Saat ini, sumber daya manusia (SDM) untuk membatik minim dan bisa dikatakan sangat sulit dicari karena regenerasi kurang sebab anak muda sekarang kurang menyukai profesi membatik. Tetapi ia tetap berupaya agar kaum milenial mencintai dan bangga akan produk lokal seperti batik.

Baca Juga

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA