Jumat, 8 Rabiul Awwal 1440 / 16 November 2018

Jumat, 8 Rabiul Awwal 1440 / 16 November 2018

Twitter Buat Follower Trump dan Katy Perry Berkurang Drastis

Jumat 13 Jul 2018 11:06 WIB

Rep: Desy Susilawati/ Red: Indira Rezkisari

Katy Perry

Katy Perry

Foto: AP
Kebijakan pembersihan Twitter membuat pengguna berkurang pengikutnya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Twitter membuat kebijakan membersihkan akun yang dibekukan dari jumlah pengikut para penggunanya. Seperti dilansir dari Hollywood Reporter, Jumat (13/7), beberapa tokoh publik, termasuk Presiden Donald Trump dan penyanyi Katy Perry, mengalami penurunan besar pengikut Twitternya menyusul kebijakan baru tersebut.

Perry, yang memiliki gelar paling banyak diikuti di Twitter, kehilangan sebagian besar pengikut. Dia memiliki 109,6 juta pengikut pada hari Rabu, tapi pada tengah hari Kamis jumlah itu telah menurun 2,8 juta menjadi 106,8 juta. Twitter Trump juga kehilangan sekitar 196 ribu pengikut, sehingga jumlahnya mencapai 53,2 juta.

Baca juga: Cristiano Ronaldo Ditawari Bintangi Dokumenter di Facebook

Twitter mengumumkan rencananya untuk menindak pengikut palsu pada hari Rabu. Dalam unggahan blog, perusahaan mengatakan bahwa setiap akun yang dibekukan, yang terkunci karena perubahan perilaku yang tiba-tiba, tidak akan dimasukkan dalam jumlah pengikut. Sebagian besar pengguna Twitter hanya akan mengalami perubahan hingga empat pengikut, tapi beberapa akun yang lebih besar diharapkan mengalami penurunan besar dalam pengikut mereka.

Orang lain yang melihat perubahan besar termasuk Justin Bieber sebagai orang nomor dua yang paling banyak pengikutnya di Twitter. Lalu dan Barack Obama. Keduanya kehilangan sekitar 2 juta pengikut. Sementara Rihanna kehilangan 856 ribu pengikut dan Taylor Swift kehilangan 1,8 juta.

Tidak jelas apakah ruang lingkup pembersihan sudah dirasakan atau apakah pengguna Twitter akan terus melihat penurunan dalam jumlah pengikut mereka. Perubahan Twitter datang setelah beberapa penggunanya mendapat kecaman karena secara artifisial meningkatkan pengikut mereka dengan membeli pengikut. Sebuah penyelidikan New York Times  dari Januari mengungkapkan bahwa banyak tokoh masyarakat yang terlibat dalam praktik membeli pengikut atau follower tersebut.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES