Monday, 3 Zulqaidah 1439 / 16 July 2018

Monday, 3 Zulqaidah 1439 / 16 July 2018

Dua Waralaba Ini akan Hilangkan Sedotan dari Meja Makan

Selasa 10 July 2018 11:08 WIB

Rep: Marniati/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Sedotan plastik, salah satu penyumbang polutan terbesar di dunia.

Sedotan plastik, salah satu penyumbang polutan terbesar di dunia.

Foto: EPA
Aktivis lingkungan terus mendorong penghilangan sedotan listrik karena mengotori laut

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Starbucks  akan menghilangkan sedotan plastik dari tokonya secara global pada 2020. Ini sebagai bentuk dukungan Starbucks untuk bisnis yang lebih ramah lingkungan.

Perusahaan yang bermarkas di Seattle itu mengatakan pada Senin (9/7) bahwa mereka akan menggunakan sedotan yang terbuat dari bahan lain. Starbucks juga akan merancang tutup minuman yang tidak memerlukan sedotan.

McDonald juga baru-baru ini mengatakan akan beralih ke sedotan kertas di Inggris dan Irlandia pada tahun depan. Mereka juga akan menguji alternatif untuk sedotan plastik di beberapa lokasi AS.

Aktivis lingkungan telah mendorong industri bisnis untuk tidak menggunakan sedotan plastik. Ini karena sedotan plastik dapat melukai kehidupan laut.

Dorongan ini dilakukan setelah sebuah video viral pada  2015. Video itu menunjukkan tim penyelamat sedang mengeluarkan sedotan dari hidung kura-kura laut.

Pemerintah Amerika Serikat juga telah memperhatikan masalah ini. Pekan lalu, larangan Seattle terkait sedotan plastik tunggal dan peralatan di outlet layanan makanan mulai berlaku.

Starbucks mengatakan mereka sudah menawarkan sedotan alternatif di Seattle. Proposal serupa sedang dipertimbangkan di tempat lain, termasuk New York dan San Francisco.

Sedotan plastik telah menjadi isu yang sangat penting, meskipun jumlah mereka hanya empat persen dari jumlah sampah plastik. Sedotan berjumlah sekitar 2.000 ton dari hampir 9 juta ton sampah plastik yang mencapai air dalam satu tahun. 

Banyak pihak yang mendukung pembatasan sedotan plastik ini. Mereka mengatakan keberadaan sedotan plastik sebenarnya tidak diperlukan.  Larangan ini merupakan hal yang baik untuk menyelamatkan kehidupan laut.

Sumber : AP
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES