Kamis, 7 Syawwal 1439 / 21 Juni 2018

Kamis, 7 Syawwal 1439 / 21 Juni 2018

Belanja tanpa Uang Tunai Makin Disukai Konsumen

Selasa 12 Juni 2018 12:26 WIB

Rep: Nora Azizah / Red: Friska Yolanda

Petugas menata tumpukan uang rupiah di Cash Center Bank Mandiri, Jakarta, Rabu (18/4). Pemerintah dan Bank Indonesia mempertimbangkan untuk menurunkan batas transaksi tunai atau dengan uang kartal yang dalam Rancangan Undang-Undang tentang Pembatasan Transaksi Uang Kartal (PTUK) saat ini diusulkan maksimal Rp100 juta.

Petugas menata tumpukan uang rupiah di Cash Center Bank Mandiri, Jakarta, Rabu (18/4). Pemerintah dan Bank Indonesia mempertimbangkan untuk menurunkan batas transaksi tunai atau dengan uang kartal yang dalam Rancangan Undang-Undang tentang Pembatasan Transaksi Uang Kartal (PTUK) saat ini diusulkan maksimal Rp100 juta.

Foto: Sigid Kurniawan/Antara
85 persen responden Indonesia menggunakan pembayaran digital melalui ponsel pintar.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perusahaan teknologi pembayaran digital Visa melakukan survei terhadap konsumen belum lama ini. Berdasarkan studi Visa pada Consumer Payment Attitudes Study yang dilakukan disepanjang Juli 2017 mengungkapkan, 76 persen masyarakat Indonesia menyatakan semakin percaya diri untuk belanja tanpa menggunakan uang tunai.

"Konsumen kini lebih menyukai pembayaran yang lebih inovatif dan mengikuti tren dunia," ujar Presiden Direktur PT Visa Worldwide Indonesia Riko Abdurrahman dalam pemaparan studi kepada media, akhir Mei 2018 lalu. Konsumen lebih menyukai gaya hidup belanja dengan pembayaran lebih praktis, aman, dan bisa dilakukan tanpa terikat ruang dan waktu.

Studi Visa Consumer Payment Attitudes menunjukkan perkembangan teknologi dan inovasi mendorong konsumen Indonesia menggunakan pembayaran elektronik untuk belanja sehari-hari. Berdasarkan kesimpulan penelitian, lebih dari separuh konsumen Indonesia menginginkan Indonesia menjadi negara tanpa transaksi uang tunai.

Menariknya, 85 persen responden Indonesia telah menggunakan pembayaran digital melalui ponsel pintar untuk melakukan transaksi, seperti membayar tagihan, memesan taksi, hingga makan di restoran. Kemudian, sebanyak 75 persen responden Indonesia menggunakan ponsel pintar untuk mengakses layanan perbankan, setidaknya satu kali dalam seminggu.

Hasil penelitian juga menunjukkan, 57 persen responden sudah berpindah dari transaksi uang tunai ke elektronik. Bahkan 61 persen responden merasa lebih aman menggunakan kartu pembayaran daripada harus membawa uang tunai. Survei yang dilakukan di tujuh negara, yakni Indonesia, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietna, tersebut juga memperlihatkan hasil bahwa Indonesia melangkah lebih maju menjadi negara dengan masyarakat nontunai.

"Langkah tersebut akan membantu pergerakan ekonomi digital di dalam negeri," lanjut Riko.

Pergerakan ekonomi digital bisa semakin cepat dengan dukungan penggunaan ponsel pintar yang kian merata. Dari 4.000 responden yang terlibat dengan demografi relawan Indonesia laki-laki dan perempuan berusia di atas 18 tahun berpenghasilan di atas Rp 3 juta, 98 persen sudah mempunyai ponsel pintar pribadi. Responden juga menghabiskan waktu 6,4 jam sehari menggunakan ponsel pintar.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES