Thursday, 16 Jumadil Akhir 1440 / 21 February 2019

Thursday, 16 Jumadil Akhir 1440 / 21 February 2019

Psikolog Ungkap Bahaya Terlalu Banyak 'Selfie'

Senin 15 Jun 2015 07:02 WIB

Rep: MGROL 41/ Red: Indira Rezkisari

Sejumlah pengunjung berselfie ria di gambar Soekarno dan Nelson Mandela. Meski puncak perayaan Konferensi Asia Afrika (KAA) ke-60 telah usai namun kepadatan pengunjung masih terjadi di kawasan Gedung Merdeka, Jl Asia Afrika, Kota Bandung, Ahad (26/4).

Sejumlah pengunjung berselfie ria di gambar Soekarno dan Nelson Mandela. Meski puncak perayaan Konferensi Asia Afrika (KAA) ke-60 telah usai namun kepadatan pengunjung masih terjadi di kawasan Gedung Merdeka, Jl Asia Afrika, Kota Bandung, Ahad (26/4).

Foto: Republika/Edi Yusuf

REPUBLIKA.CO.ID, Selama beberapa dekade psikolog telah menempatkan cermin di laboratorium untuk memahami apa yang terjadi secara psikologis ketika kita melihat diri sendiri. Hal pertama adalah tentang kesadaran mengenai kondisi diri sendiri, kedua adalah perbandingan yang terjadi di dalam diri.

Tahun 2015 merupakan tahun narsisme, kecemasan akan diri sendiri, serta keberadaan tongsis (tongkat narsis). Ini bisa menjadi masalah dengan konsekuensi nyata.

Dalam sebuah penelitian diketahui, perempuan yang mengenakan baju renang di depan cermin dilaporkan merasa malu pada kondisi tubuhnnya. Pada akhirnya ia menahan pola makannya. Hal ini dilakukan dalam era sebelum kebiasaan selfie eksis. Tapi,  W Keith Campbell, penulis "The Narcissism Epidemic" dan profesor psikologi di University of Georgia, menduga hasilnya akan sama sekarang setelah eranya selfie. Sebab, keduanya terkait dengan ketidakpercayaan diri serta potensi yang menimbulkan efek kerusakan meski itu dilakukan untuk membuat seseorang tampil lebih baik secara fisik.

Bagaimana cara kerjanya di dunia nyata? Seperti yang dilansir oleh situs Independent, Senin (15/6), manusia hidup di dalam budaya yang dikelilingi oleh kebiasaan selfie. Maksudnya, orang yang paling sering mengunggah foto cenderung narsis dan mempromosikan diri. Foto yang ditampilkan juga cenderung tidak memperlihatkan kecantikan yang sesungguhnya.

Orang-orang yang kelihatan bagus saat melakukan selfie, menguasai ilmu selfie. Kim Kardashian, misalnya. Untuk bisa mendapat satu selfie yang terbaik, Kim dilaporkan memotret dirinya hingga 300 kali. Selfie ala selebritas pun kerap dilakukan dengan penata rias profesional dan pencahayaan yang mendukung.

 

Berbeda dengan ketika orang yang bukan siapa-siapa melakukan selfie, setelahnya pasti merasa gambar yang dihasilkan mencerminkan tubuh yang gemuk, jerawat, gelap, terlalu dekat dengan kamera dan sebagainya. Jadi apa yang terjadi selanjutnya? Ketika kita merasa buruk, biasanya kita mencoba untuk mengubahnya. Bisa lewat beberapa aplikasi filter alias dengan bantuan teknologi.

Lebih parahnya banyak yang berpikir ingin melakukan operasi plastik karena khawatir akan komentar orang-orang yang melihat hasil selfienya. Ini bukti kalau foto diri bisa menimbulkan kecemasan yang berlebihan. Psikolog menyebut fenomena tersebut sebagai fenomena sorotan efek.

Keith mengingatkan dunia ini adalah tempat yang sangat menarik. Kita pun perlu bersenang-senang dengan kerabat dan keluarga, dan tidak terjebak dalam penampilan sehingga melupakan dunia sekitar kita.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES