Rabu, 10 Jumadil Awwal 1440 / 16 Januari 2019

Rabu, 10 Jumadil Awwal 1440 / 16 Januari 2019

Alasan Liburan Buruk Tetap Jadi Nostalgia Menyenangkan

Selasa 25 Des 2018 10:05 WIB

Rep: Santi Sopia/ Red: Indira Rezkisari

Liburan keluarga

Liburan keluarga

Foto: Good Free Photos
Hasil perjalanan memungkinkan untuk berbagi pengalaman baru, percakapan, dan tawa.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Spontanitas terkadang jauh lebih penting untuk memiliki waktu keluarga yang berkualitas daripada perjalanan liburan yang direncanakan. Saat liburan, boleh jadi sesekali sebuah keluarga mengalami pertengkaran, berbeda pendapat, tetapi ada cara agar ingatan Anda menciptakan sorotan yang merangsang nostalgia indah sehingga membuat Anda ingin merencanakan perjalanan berikutnya.

Baca Juga

Dr Omar Sultan Haque, seorang psikiater dan ilmuwan sosial Universitas Harvard mencontohkan ada pasangan yang menghabiskan sebagian besar waktu untuk bertengkar dan stres selama liburan. Padahal tidak ada bencana ataupun kecelakaan yang mereka alami.

Namun ketika mereka duduk di bandara menunggu penerbangan kembali ke rumah, yang bisa mereka bicarakan hanyalah bagaimana mereka tidak sabar untuk pergi berlibur lagi. Untuk mengingat kenangan liburan, ada cara kerja otak di situ.

"Kita memiliki dua 'diri'," jelas Dr Omar Sultan Haque, seorang psikiater dan ilmuwan sosial Universitas Harvard.

Pertama, ada diri yang mengalami dan diri yang diingat. Di tengah-tengah tekanan liburan, orang mungkin stres dan terganggu oleh keluarga dan anak-anak, dan kerumitan birokrasi, tetapi diri yang diingat bisa dengan mudah mengubah stress menjadi nostalgia.

Meskipun seseorang menganggap liburan sebagai waktu untuk bersantai dan memulihkan tenaga, bepergian dengan anak-anak dengan tingkat kesulitan tertentu juga bisa menjadi kenangan manis. Ingatan, bagaimanapun, biasanya positif karena nilai yang orang masukkan ke dalam pengalaman.

“Kita cenderung memikirkan pengalaman seperti ini pada tingkat kesenangan atau rasa sakit, tetapi sungguh, memberi anak hadiah liburan lebih pada makna atau landasan moral,” kata Dr Haque.

Hasil perjalanan memungkinkan untuk berbagi pengalaman baru, percakapan hebat, dan tawa. Inilah smengapa pengalaman buruk pun tetap bisa membuat orang merencanakan perjalanan berikutnya, dilansir dari Channel News Asia, Selasa (25/12).

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES