Tuesday, 4 Zulqaidah 1439 / 17 July 2018

Tuesday, 4 Zulqaidah 1439 / 17 July 2018

Jejak Sejarah Turki Usmani (1)

Kamis 12 July 2018 14:39 WIB

Rep: Arif Supriyono/ Red: Indira Rezkisari

Gerbang Topkapi.

Gerbang Topkapi.

Foto: Republika/Arif Supriyono
Kesultanan Turki Usmani mencapai puncak kejayaan pada abad 16 dan 17.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kesultanan Turki Usmani atau Kesultanan Usmaniyah pernah menjadi kekuatan utama dunia. Wilayahnya mencakup sepertiga luas dunia. Kecuali benua Amerika Serikat, wilayah kekuasaan Kesultanan Turki Usmani yang resminya bernama Negara Agung Usmaniyah itu meliputi sebagian daratan Eropa, Afrika, dan Asia.

Pendiri Kesultanan Turki Usmani adalah Usman Bey (dari suku Turki) pada 1299-1326  Masehi. Saat itu, pemerintahannya masih berbentuk kekaisaran. Sebagai kekaisaran kecil dan dalam upaya memperluas dukungan, sang kaisar sengaja memindahkan ibu kota agar pengaruhnya bisa kian meluas.

Semula di Sogut, lalu pindah ke Bursa, Adrianopel, hingga akhirnya menetapkan Konstantinopel sebagi ibu kota. Nama Konstantinopel -ibu kota Byzantium- kemudian berubah menjadi Istanbul.

Wilayah Konstantinopel pada mulanya merupakan bagian dari kekuasaan Kekaisaran Romawi atau Byzantium. Setelah Kaisar Mahmud II mampu menaklukkan Konstantinopel pada 1453, sejak itu pula bentuk kekaisaran berubah menjadi kesultanan.

Negara-negara Eropa menyebutkan sebagai Kekaisaran Ottoman atau Dinasti Turki Usmani. Wilayah kekuasaan Kesultanan Turki Usmani pun terus berkembang seiring kedigdayaan pemerintahannya.

Kesultanan Turki Usmani mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Sulaiman Agung pada abad 16 dan 17. Saat itu cakupan wilayahnya meliputi Eropa (Albania, Azerbaijan, Bosnia-Herzegovina, Bulgaria, Kroasia, Siprus, Yunani, Eritrea, Georgia, Kosovo, Yunani, Rusia, Rumania, Montenegro, Slovenia, Serbia, Ukraina, Slovenia, Moldova, dan sebagian Spanyol), Afrika (Libya, Sudan, Tunisia, Aljazair, Somalia, Mesir, dan lain-lain), serta Asia (Yaman, Irakiran, Palestina, Saudi Arabia, Kuwait, Bahrain, Suriah, Oman, Qatar, Lebanon, dan lain-lain termasuk Indonesia).

Era kejayaan Turki Usmani mulai berkurang saat Perang Rusia pada 1877-1878. Turki mengalami kekalahan dalam perang itu sehingga wilayah Rusia pun lepas. Koalisi Katholik yang dipimpin Philip II juga mampu memukul mundur pasukan Turki Usmani saat bertempur di Lepanto, Laut Mediterania. Bala tentara Tuki Usmani juga takluk oleh pasukan Malta.

Kesultanan Turki Usmani sempat bangkit dan mampu memulihkan keadaan sehingga memaksa pasukan Venesia mengadakan perjanjian damai. Turki juga kalah dalam perang  melawan Austria. Beberapa wilayah Turki harus diserahkan ke Austria, termasuk Serbia.

Turki pun menandatangani perjanjian untuk tidak melakukan ekspansi lagi ke Eropa pada 1739. Kondisi itu diperburuk karena ada pergolakan di dalam negeri.

Pada 1914, Gerakan Nasional Turki yang dipimpin Mustafa Kemal Pasha atau Mustafa Kemal Ataturk mampu menggulingkan pasukan Kesultanan Turki Usmani dalam perang kemerdekaan. Kemal Ataturk lalu membubarkan kesultanan (pada 1 November 1922).

Hal itu mengakibatkan Sultan terakhir (Mahmud VI) meninggalkan negaranya. Republik Turki lalu berdiri pada 29 Oktober 1923 dengan Kemal Ataturk sebagai presiden.

Praktis keputusan berdirinya Republik Turki itu mengakhiri masa kesultanan atau kekhalifahan di Turki. Kemal Ataturk  juga membubarkan Kekhalifahan Turki Usmani pada 3 Maret 1924. Sejak itu pula ibu kota Turki berpindah dari Istanbul ke Ankara.

Kehidupan agamis rakyat Turki juga berubah menjadi sekuler, yakni memisahkan urusan agama dan masalah kenegaraan/pemerintahan, walau 90 persen penduduknya beragama Islam. Meski ibu kota Turki ada di Ankara, Kota Istanbul yang juga merupakan nama provinsi itu sampai kini tetap menjadi kota terbesar dengan penduduk sekitar 22 juta orang dari seluruhnya sekitar 80 juta warga Turki.

Beberapa jejak  sejarah kebesaran Kesultanan Turki Usmani tetap kokoh berdiri di Istanbul hingga kini.

photo

Masjid Topkapi.

Istana Topkapi

Istana Topkapi (Topkapi Palace) atau Topkapi Sarayi merupakan tempat tinggal resmi sultan-sultan dari dinasti Turki Umani selama hampir 400 tahun, sejak 1465-1856. Pada masa 1856 hingga 1924, istana ini hanya menjadi tempat istirahat para sultan.

Topkapi memiliki arti dua meriam. Simbol dua meriam itu tampak di samping gerbang masuk istana yag seluruhnya memiliki luas 700.000 m2 dan panjang sekitar 1,4 km. Letak istana persis berada di tepi Laut Marmara. Istana itu dipagari benteng sepanjang 5 km di sisi Laut Marmara.

Topkapi dibangun tahun 1459 pada masa pemerintahan Sultan Mahmud II. Ada 35 bagian dari istana tersebut. Antara lain berupa ruang-ruang untuk kerja, menerima tamu, tempat istirahat, perpustakaan-perpustakaan, galeri, masjid, audiensi, ruang para istri, paviliun, tempat pameran, dan sebagainya. Tentu saja ornamen dan interior di dalam istana tergolong mewah.

Setelah masuk gerbang utama ada koridor sepanjang kira-kira 500 m menuju gerbang kedua yang di sisi kiri dan kanan merupakan taman. Pada bagian samping kanan ada kafe dan aneka toko suvenir. Acara-acara kenegaraan juga diselenggarakan di istana. Bagian belakang Topkapi langsung berhubungan dengan laut Marmara.

Istana Topkapi sempat mengalami kebakaran pada 1574 di masa Sultan Sulaeman Agung. Keperkasaan Topkapi memudar setelah wilayah Tuski Usmani kian bekurang. Apalagi sejak 1856, Sultan Abdul Mejid I membangun Istana Dolmabahce yang juga berlokasi di pinggir laut. Abdul Mejid kemudian memindahkan kediamannya dari Topkapi ke Dolmabahce di Besiktas. Saat Kemal Attaturk berkuasa, Topkapi diubah menjadi museum hingga kini.

photo

Menara Galata.

Galata Tower

Seperti namanya, ini merupakan menara pengintai. Dengan tinggi sekitar 65 m dan keliling 16 m, menara yang berada di distrik Galata ini dibangun pada 1348. Berada di tepi laut, bila berdiri di lantai atas menara ini maka petugas istana akan bisa melihat setiap pergerakan kapal tamu atau musuh yang akan masuk Laut Marmara.

Menara ini terdiri atas 9 lantai. Selain menjadi tempat melihat suasana Kota Istanbul, di lantai 9 kini juga berubah menjadi resto. Lantai lain dari menara ini juga difungsikan untuk kepentingan yang menunjang aktivitas wisata.

Pada masa Sultan Selim III tahun 1794, Menara Galata sempat terbakar. Kebakaran serupa pernah terjadi pada 1831 namun bisa kembali diperbaiki. Menara juga sempat rusak saat ada gempa di era Sltan Bayezit II.

Berdasarkan legenda yang ada, saat kekuasaan Sultan Murad IV, ada seorang bernama Hezarfen Amet Celebi yang nekat terbang dari atas Menara Galata dengan menggunakan sayap buatan.

Celebi mampu terbang sejauh 6 km dan mendarat di wilayah Uskudar yang merupakan perbatasan antara wilayah Asia dan Eropa. Sultan yang semula hendak memberikan penghargaan pada Celebi malah berubah pikiran dan justru mengucilkan pria ini ke Aljazair.

photo

Bagian dalam Istana Beylerbeyi

Istana Baylerbeyi

Istana ini berada di dekat Jembatan Bosphorus (Jembatan Fatih Sultan Mehmet) sepanjang 1,5 km yang membelah Selat Bosphorus. Istana ini dibangun oleh Sultan Abdulazis antara tahun 1861 hingga 1864. Bangunan megah ini merupakan tempat menerima tamu negara atau guest house.

Untuk ukuran pada masa itu, bangunan Istana Baylerbeyi sangatlah mewah. Interior di dalamnya bercita rasa tinggi. Ornamennya sangat indah dengan bahan marmer dan keramik yang berasal dari beberapa negara Eropa. Istana ini terdiri atas enam ruang utama (untuk rapat dan audiensi) serta 23 ruang lainnya.

Selain ruang tidur dan kamar mandi, ada ruang bersantai, ruang pribadi sultan, ruang keluarga, dan lain-lain sebagaimana layaknya istana. Untuk memasuki istana ini, pengunjung harus memakai sarung sepatu terbuat dari plastik agar lantai ruangan tetap terjaga kebersihannya.

Setiap lantai selalu dilapisi karpet. Baylerbayi berarti dewanya para dewa. Arsitek istana ini adalah Sarkis Balyan. Saat itu, istana yag terdiri atas tiga lantai ini jauh lebih mewah dan megah dari kebanyakan bangunan lain di Eropa. Kini istana ini juga berfungsi sebagai museum.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES