Sunday, 8 Zulhijjah 1439 / 19 August 2018

Sunday, 8 Zulhijjah 1439 / 19 August 2018

Taman Satwa Cikembulan Jadi Objek Penelitian

Kamis 17 May 2018 22:01 WIB

Red: Yudha Manggala P Putra

Seekor kakatua jambul kuning. Ilustrasi

Seekor kakatua jambul kuning. Ilustrasi

Foto: Republika/Edwin Dwi Putranto
Taman Satwa Cikembulan merupakan lembaga konservasi yang memiliki satwa khas.

REPUBLIKA.CO.ID, GARUT -- Taman Satwa Cikembulan di Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut, Jawa Barat, menjadi objek penelitian mahasiswa dan dosen dari Institut Pertanian Bogor. Taman yang memiliki daya tarik terkait binatang ini merupakan lembaga konservasi baru di Garut.

"Ada rasa ketertarikan dari puluhan mahasiswa IPB dan staf akademisi IPB untuk melakukan pengamatan terhadap taman satwa yang dianggap sebagai lembaga konservasi baru yang ada di daerah," kata Manager Taman Satwa Cikembulan Garut, Rudi Arifin kepada wartawan di Garut, Kamis (17/5).

Ia menuturkan, Taman Satwa Cikembulan sebagai lembaga konservasi seringkali menjadi objek penelitian termasuk dari IPB untuk melakukan riset penelitian dan pengamatan. Para peneliti dari IPB itu, kata dia, ingin mengetahui lebih jauh tentang satwa bahkan perkembangan lembaga konservasi baru yang dinilainya memiliki nilai operasional tinggi tetapi mampu dikelola dengan baik.

"Tidak hanya observasi terhadap satwa-satwa, namun mereka juga tertarik dari aspek pengelolaannya termasuk pengamatan dari biaya yang dikeluarkan untuk ratusan jenis satwa," katanya.

Ia menambahkan, daya tarik tersendiri di Taman Satwa Cikembulan yakni beberapa jenis satwa yang tidak ada di lembaga konservasi atau kebun binatang lain.

Ia menyebutkan, seperti burung jenis kakatua jambul tiga yang saat ini menjadi objek penelitian oleh mahasiswa IPB. "Kakatua jambul tiga salah satu jenis satwa yang menjadi objek penelitian oleh mahasiswa IPB karena dinilai di kebun binatang atau taman satwa lainnya di Jawa Barat tidak ada," katanya.

Ia menambahkan, upaya pengelolaan taman satwa perlu keseriusan dan komitmen yang tinggi agar dapat beroperasi dengan baik.

Selain itu, lanjut dia, sering melakukan studi banding antar-taman satwa atau kebun binatang yang ada di Indonesia sehingga mendapatkan pengetahuan tambahan dalam mengelolanya. "Kami memandang perlu untuk melakukan studi banding dengan lembaga konservasi yang sudah lama dan dikelola secara profesional," katanya.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES