Friday, 8 Syawwal 1439 / 22 June 2018

Friday, 8 Syawwal 1439 / 22 June 2018

Melongok Kejayaan Jepang di Kyoto

Ahad 14 January 2018 15:38 WIB

Red: Joko Sadewo

Istana Ninomaru, Kyoto, Jepang

Istana Ninomaru, Kyoto, Jepang

Foto: republika/joko sadewo

REPUBLIKA.CO.ID,  Kalau Anda ingin melihat tempat-tempat bersejarah di Jepang, salah satu kota yang bisa dituju adalah Kyoto.  Kota yang dulu pernah menjadi ibu kota Jepang selama lebih dari 1000 tahun ini, bisa disebut sebagai perpaduan Jogja dan Bali-nya Jepang. Tak hanya memiliki bangunan-bangunan bersejarah, Kyoto juga menjadi gudangnya seni, budaya, agama dan pemikiran masyarakat Jepang.

Jarak Kyoto dari pusat kota Tokyo sekitar 470 kilometer. Sekalipun jaraknya cukup jauh, tapi jarak tersebut bisa saya tempuh hanya memakan waktu sekitar 2 jam saja, dengan menggunakan kereta super cepat Shinkansen dari Stasiun Tokyo. Adapun harga tiketnya sebesar 13.520 yen. Jika kurs rupiah 1 yen sama dengan Rp 150,- maka harga tiketnya sekitar Rp 2.028.000,-.

Sebenarnya untuk mencapai ke sana juga bisa menggunakan bus, dengan biaya yang lebih murah. Ongkos bus sekitar 5.000 yen untuk mencapai Kyoto, tapi waktu tempuhnya sekitar 8 hingga 9 jam. Tapi tidak usah khawatir soal kenyamanannya, sebab transportasi di Jepang sudah sangat bagus.

Begitu tiba di pusat kota Kyoto, banyak lokasi yang bisa didatangi. Seperti melihat Istana Kekaisaran Kyoto, yang dikenal sebagai pusat arsitektur Jepang karena kesederhanaannya. Untuk bisa masuk ke kawasan ini, perlu mengajukan izin terlebih dahulu.  Tidak jauh dari Istana Kekaisaran Kyoto, juga langsung bisa melanjutkan perjalanan menuju ke Benteng Nijo, yang pernah menjadi tempat tinggal Shogun Tokugawa.

 

Puas melihat-lihat Istana Nijo, kita bisa melanjutkan perjalanan untuk mengunjungi bangunan kuil bersejarah di sana. Di Kyoto memang gudangnya kuil bersejarah. Ada sekitar 1.700 kuil yang ada di dalam kota Kyoto.

Dari sekian banyak kuil,  kita bisa ke Kuil Kinkakuji dan Kuil Ciohin. Kuil ini posisinya tidak terlalu jauh dari pusat kota Kyoto, sehingga bisa mudah menjangkaunya dengan menggunakan taksi ataupun kendaraan umum lainnya.

photo

Kuil Kinkakuji

 

Kuil Kinkakuji berada di Kyoto Barat. Perjalanan ke Kuil ini dengan menggunakan taksi bisa ditempuh kurang dari 30 menit.  Di tempat ini kita bisa melihat indahnya kilauan emas, yang melapisi bangunan paviliun Kinkakuji. Kita juga bisa menikmati keasrian alam di sekitar kawasan tersebut.

photo

Lonceng Daishoro

 

Sementara peninggalan bersejarah yang bisa kita lihat di Kuil Ciohin adalah gong raksasa yang diberi nama Daishoro. Gong ini sudah berumur hampir 800 tahun. Seandainya, kita datang pada 31 Desember, kita akan bisa menyaksikan upacara pemukulan gong sebanyak 108 kali oleh 17 orang pendeta. Mereka memiliki kepercayaan bahwa dalam diri manusia ada 108 roh jahat. Jadi roh jahat itu harus diusir dengan memukul gong sebanyak 108 kali.

Tak hanya wisata tempat bersejarah. Di Kyoto, juga  bisa dinikmati sejumlah kesenian, tradisi, masyarakat, maupun gaya  hidup masyarakat setempat. Kita masih Masih banyak rumah-rumah kuno Jepang yang masih berdiri. Ini terpelihara karena Pemerintah Kota Kyoto memang melarang warganya untuk mengubah bentuk rumah tradisional yang masih ada di sejumlah kawasan.

photo

Rumah tradisional Jepang di Kyoto

 

Salah satu tempat yang bisa dituju untuk melihat tradisi di Jepang adalah Gank Gion. Kawasan ini memang dikenal sebagai tempat hiburan malam di Kyoto. Di tempat ini kita melihat masih banyak bangunan rumah gaya Jepang masa lalu. Rumah-rumah sebagian besar dimanfaatkan untuk dijadikan restoran. Takhanya menyediakan makanan dan minuman tradisional Jepang, di sejumlah rumah di Gank Gion juga menampilkan Geisha maupun Maiko untuk membawakan tarian Jepang.

Upacara adat yang berkait dengan agama Budha juga masih bisa ditemui di sana.  Salah satunya adalah upacara membakar pohon di Gunung Daimongziyama. Setiap 16 Agustus, masyarakat Kyoto akan melakukan upacara membakar pohon dibentuk tulisan ‘DAI’ yang artinya besar, di bagian gunung gunung tersebut.

Upacara ini dilakukan terkait dengan kepercayaan melepas roh nenek moyang. Pada 13 hingga 15 Agustus, mereka mempercayai roh nenek moyang akan kembali ke rumah. Nah, untuk mengantarnya kembali ke  alam baka mereka melepasnya dengan membakar pohon di Gunung Daimongziyama.

Selama berada di Kyoto, Kyoto takubahnya perpaduan Yogyakarta dan Bali di Indonesia. Sama seperti di Bali dan Yogyakarta, masih banyak peninggalan bersejarah, budaya, maupun tradisi lama yang kita temukan di Kota Kyoto.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES