Sabtu, 9 Rabiul Awwal 1440 / 17 November 2018

Sabtu, 9 Rabiul Awwal 1440 / 17 November 2018

Sejenak Melenggang di Kupang

Sabtu 11 Nov 2017 00:23 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Yudha Manggala P Putra

Pantai Lasiana di Kupang

Pantai Lasiana di Kupang

Foto: Panoramio

REPUBLIKA.CO.ID, KUPANG -- Matahari menyengat terik. Pukul sepuluh pagi, hawa Kota Kupang sudah gerah dan membuat tubuh berkeringat. Suhu rata-rata di Ibu Kota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ini terbilang normal. Namun, kisaran temperatur rata-rata 23,8 derajat Celsius hingga 31,6 derajat Celsius agaknya mendekati titik tertingginya.

Saya berkesempatan sejenak mengunjungi Kupang beberapa waktu lalu. Meliput langsung Gubernur NTT Frans Lebu Raya yang meresmikan sebuah acara seremonial. Kegiatan berlangsung di SDN Inpres Bertingkat Kelapa Lima 1, Kota Kupang.

Kedatangan pemimpin daerah disambut riuh-rendah oleh para guru dan siswa sekolah dasar tersebut. Seseorang membagikan ransum, menyuruh sejumlah murid yang berkumpul sejak pukul tujuh pagi untuk makan terlebih dahulu.

Rombongan saya, sejumlah awak media yang seluruhnya berasal dari Jakarta, girang bukan main melihat para murid itu mengenakan pakaian adat. Kami mengabadikan mereka dalam potret, tak lupa berfoto bersama.

Busana kedaerahan yang dikenakan anak-anak itu tak seragam. Ada berbagai bentuk dan warna elok yang agaknya berasal dari suku berlainan yang tinggal di Kupang.

Kota dengan luas wilayah 180,27 kilometer persegi itu memang dihuni beragam suku. Beberapa di antaranya berasal dari suku Timor, Rote, Sabu, Flores, kelompok etnis Tionghoa serta sebagian kecil pendatang keturunan Bugis dan Jawa.

Sejumlah anak menggunakan penutup kepala unik yang mengingatkan saya kepada topi sombrero khas Meksiko. Topi berwarna kecokelatan dari daun lontar kering ini rupanya bernama ti'i langga. Suku Rote mengenakannya sebagai pelengkap pakaian adat, simbol wibawa, dan kepercayaan diri.

Para murid lelaki yang memakai ti'i langga memadukannya dengan kemeja putih dan bawahan sarung kain ikat. Tenun ikat dengan motif senada disampirkan sebagai selendang pada kemeja putih mereka.

Sementara, sebagian siswa perempuan mengenakan kain tenun yang menutup bagian dada, tubuh, hingga kaki. Ada hiasan kepala khas berbentuk bulan sabit menengadah yang dikenakan di kepala, melengkapi penampilan cantik mereka.

Tak lama, pembawa acara meminta Frans menari dolo. Ia bersama para guru dan siswa bergandengan tangan membentuk satu lingkaran besar, kemudian menari sambil berputar diiringi nyanyian daerah setempat.

Kesenian rakyat khas bernama tari dolo identik dengan budaya masyarakat Flores Timur. Olah gerak menyenangkan yang ditarikan secara massal dimaknai sebagai wujud membangun persahabatan.

Pantai Lasiana

Selama di Kupang, saya sempat pelesir ke Pantai Lasiana. Pantai tersebut terletak di Kelurahan Lasiana, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang. Diukur dari pusat kota, jarak tempuhnya kira-kira mencapai 12 kilometer.

Kami tiba beberapa menit setelah pukul lima sore. Matahari hampir tenggelam di lautan. Sayangnya, anggota rombongan yang berburu sunset terhalang awan mendung di kejauhan.

Pantai tersebut tampak tertata rapi, tapi amat sepi. Ada arena bermain anak-anak di lokasi berpasirnya, tapi tak satu pun ada anak kecil yang berlarian riang.

Sejumlah pondok yang dalam bahasa lokal disebut lopo-lopo menjajakan kelapa muda dan penganan kecil, menantikan pengunjung yang datang satu-satu. Selain rombongan kami, hanya ada beberapa orang yang tampak di kejauhan.

Pantai seluas 3,5 hektare itu berpasir putih dengan ombak tenang yang cocok untuk berenang. Bisa jadi suasana lengang yang kami jumpai karena hari kunjungan yang bukan di akhir pekan.

Berdasarkan informasi dari Dinas Pariwisata NTT, Pantai Lasiana dibuka untuk umum sejak 1970-an. Sejumlah fasilitas pendukung dibangun pada 1986 untuk membuat turis domestik ataupun mancanegara lebih nyaman.

Pantai Lasiana pada masa silam disebut tampak lebih indah dan alami, tapi mengalami gerusan bibir pantai sekira 500 meter dalam masa 30 tahun. Dalam rangka penanggulangan masalah itu, Pemerintah Kota Kupang telah membangun tanggul-tanggul pemecah ombak sepanjang pantai.

Pesona alami Pantai Lasiana didukung rerimbunan pohon menjulang yang menambah kerindangan. Kesan damai itu menciptakan suasana kontemplatif, membekas saat saya sejenak melenggang di Kupang.

Sumber : Pusat Data Republika/Nina Chairani
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES