Monday, 30 Sya'ban 1442 / 12 April 2021

Monday, 30 Sya'ban 1442 / 12 April 2021

Jelajah Pangkep (5): Merasakan Eksotisme Kuliner Pangkep

Rabu 23 Oct 2013 17:34 WIB

Rep: Aditya Pradana Putra/ Red: Fernan Rahadi

Dange

Dange

Foto: Republika/Aditya Pradana Putra

REPUBLIKA.CO.ID, Bagi saya pecinta kuliner, penelusuran saya di kawasan Karst Maros Pangkep, khususnya yang terletak di Kabupaten Pangkajene Dan Kepulauan (Pangkep), tak lengkap jika tidak mencicipi kuliner-kuliner yang ada di daerah itu.

Wilayah  yang mayoritas bagiannya  merupakan laut menjadikan Kabupaten Pangkep sebagai daerah penghasil ikan. Wisatawan maupun tamu-tamu yang datang ke Pangkep dengan mudah menemukan warung-warung maupun restoran yang menjual masakan-masakan laut (sea food).
    
Jalan Kemakmuran atau disebut Jalan Poros Pangkep menjadi salah satu jujukan favorit para pemburu kuliner. Selain berada di jalur utama Makassar-Pangkep, lokasi tersebut juga berada di pusat kota sehingga sangat terjangkau dan mudah ditemukan.
    
Dari beragam masakan, ikan bolu bakar (sejenis ikan bandeng)  menjadi salah satu andalan di sentra kuliner tersebut. Sambel yang segar dengan paduan cabai merah dan tomat menjadi pelengkap yang istimewa bagi ikan bolu bakar dengan nasi.
    
Tak hanya masakan laut, sentra kuliner Jalan Kemakmuran juga menyediakan jenis masakan lainnya sop saudara dan konro (keduanya merupakan masakan berbahan daging dan iga sapi).
    
Untuk sop saudara sendiri bagi saya termasuk spesial karena belum pernah saya temui selain di Pangkep. Kalau konro termasuk menu yang mudah saya temui di Jakarta, tempat tinggal saya. Sop saudara disajikan berkuah dengan bahan dasar daging sapi yang biasanya disajikan bersama bahan pelengkap seperti bihun, perkedel kentang, jeroan, dan telur rebus.
    
Selain itu, masakan tersebut juga biasa dikonsumsi bersama dengan nasi putih dan ikan bolu bakar yang juga dijual di lokasi tersebut. Wisatawan minat khusus yang bersama saya mencicipi kuliner setempat, Djuhariono mengatakan, Jalan Kemakmuran tak ubahnya sebagai tempat wisata dengan "one stop culinary".
    
"Satu tujuan lokasi, kita bisa mencoba bermacam-macam pilihan masakan khas setempat," kata Djuhariono yang berasal dari Surabaya.

Dange, Kue Hitam nan Lezat

    
Tak hanya masakan saja, Pangkep juga masih menyimpan pesona kulinernya. Kali ini sebuah kue tradisional yang bernama dange. Dari Sentra Kuliner Jalan Kemakmuran, saya membutuhkan waktu hampir setengah jam dengan menggunakan mobil untuk menuju Kecamatan Mandalle, sentra penjualan kue dange.
    
Di Jalan Makassar-Pare-pare kita akan menemukan deretan panjang warung-warung penjual kue dange. Berbahan ketan hitam, kelapa, dan gula merah, kue dange dijual oleh pedagang-pedagang setempat seharga Rp 10.000 untuk ukuran isi satu kotak kecil.
    
Selain bisa merasakan manisnya kue berwarna hitam tersebut, kita juga bisa menyaksikan proses pembuatannya. Pedagang-pedagang setempat membuat kue dange di bagian depan warung-warung mereka.
    
Wangi asap pembakarannya juga semerbak tercium di sepanjang jalan yang melintasi sentra penjualan kue dange itu. Memiliki tekstur yang kasar, kue dange memili rasa manis dengan bercampur sedikit pahit akibat proses pembakaran saat membuatnya.
    
Akan tetapi,  jika sudah terbiasa memakannya rasa pahitnya hilang dan cuma rasa manis saja yang ada dalam kelezatan kue dange.
   
Dange sendiri terbuat dari beras ketan hitam atau putih, parutan kelapa muda, dan gula merah. Pembuatannya sangat sederhana dengan mencampurkan ketiga bahan secukupnya kemudian dimasukkan ke dalam loyang atau cetakan dange yang sudah dipanaskan sebelumnya di atas tungku alat masak yang terbuat dari tanah liat.
     
Tunggu sekitar 10-15 menit kemudian lalu letakkan dange di atas piring atau daun pisang dan  dange pun siap dinikmati. Selain nikmat, kata warga Pangkep, Jafar mengatakan, kue dange juga dipercaya dapat mengobati penyakit diabetes.
    
Seorang pedagang, Mina (70) mengaku setiap hari rata-rata dia menjual sebanyak 20 kotak kecil kue dange. Jumlah tersebut akan meningkat drastis menjadi rata-rata 50 kotak pada akhir pekan ataupun hari libur.
    
"Saya berharap semakin ramainya kunjungan wisatawan di kawasan Karst Maros Pangkep berdampak positif bagi kami," kata Mina sambil membungkus kue dange yang saya pesan sebagai oleh-oleh ke Jakarta.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA