Jumat, 21 Sya'ban 1440 / 26 April 2019

Jumat, 21 Sya'ban 1440 / 26 April 2019

Mengejar Senja di Ujung Genteng

Sabtu 15 Jun 2013 07:19 WIB

Red: Heri Ruslan

Senja di Ujung Genteng

Senja di Ujung Genteng

Foto: Olenka Priyadarsani

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Olenka Priyadarsani

Sebenarnya sudah lama saya berniat pergi ke Ujung Genteng, namun baru terwujud akhir pekan lalu. Wilayah di ujung selatan Kabupaten Sukabumi ini memang terkenal akan keindahan pantainya.

Selain itu, Ujung Genteng juga menjadi kawasan konservasi penyu yang sangat terkenal. Kali ini niat utama saya adalah mengejar pemandangan matahari tenggelam.

Dari Jakarta, perjalanan menuju ke Ujung Genteng ditempuh antara 7 hingga 10 jam, tergantung kondisi lalu lintas. Sebenarnya jaraknya hanya sekitar 240km, namun kondisi jalan yang rusak membuat perjalanan menjadi sangat terhambat. Saya, suami, dan anak membutuhkan waktu 9 jam untuk tiba di penginapan kami.

Pantai–pantai di Ujung Genteng ini sangat cocok untuk berbagai aktivitas yang berbeda. Kontur pantai dan ombaknya pun berbeda-beda sehingga pengunjung dapat memilih hendak melakukan apa di pantai yang mana.

Pantai Cibuaya berada di pusat desanya. Biasanya di sinilah para turis lokal berwisata. Selain karena aksesnya mudah, di tepi pantai banyak pondok-pondok yang menjual makanan serta minuman kecil. Banyak juga di antara mereka yang melayani jasa membakarkan ikan. Ikannya sendiri dapat dibeli di tempat pelelangan ikan yang berada kira-kira dua kilometer dari Cibuaya.

 

Cibuaya memiliki pantai dengan pasir merica, bukan pasir halus. Selain itu banyak pecahan-pecahan terumbu karang yang terhempas ke bibir pantai. Pantai ini cocok bagi Anda yang ingin bersantai sambil menikmati birunya laut, lezatnya ikan bakar, sambil merasakan hembusan angin yang semilir. Untuk bulan-bulan tertentu hembusan angin agak dingin karena katanya membawa titip uap air dari musim dingin di Australia.

Pantai Pangumbahan berada sekitar 3 km dari Cibuaya. Pantai ini spesial karena di sini terdapat Pusat Konservasi Penyu Laut. Hampir setiap hari menjelang petang, ada bayi-bayi penyu (tukik) yang dilepasliarkan ke laut. Bila Anda berlibur ke Ujung Genteng, aktivitas yang satu ini tidak boleh dilewatkan. Malam sekitar pukul 10, Anda juga dapat datang ke Pangumbahan untuk menyaksikan penyu bertelur, bila sedang beruntung.

Petualangan paling seru adalah pergi ke Pantai Cipanarikan yang berjarak 6km dari Cibuaya. Pantai ini sangat terpencil, namun menurut masyarakat setempat sangat indah. Pantai ini hanya dapat diakses dengan sepeda motor. Kami memutuskan untuk naik ojek dari penginapan. Ternyata jalannya memang sangat buruk. Perjalanan ke pantai Cipanarikan merupakan kombinasi antara jalan berlumpur tebal, jalan setapak di tengah ilalang yang tumbuh tinggi, hingga kubangan-kubangan besar setinggi lutut orang dewasa.

Sepeda motor pun tidak mampu sampai di pinggir pantai. Kami masih harus berjalan 200 meter melewati pematang sawah dan menembus hutan belukar. Ternyata perjuangan terbayarkan! Walaupun letaknya sangat terpencil, garis pantai ini sangat panjang, bibir pantainya pun sangat lebar.

Berbeda dengan pasir merica di Pantai Cibuaya, Pantai Cipanarikan berpasir putih halus. Kami sudah was-was karena melihat semakin sore mendung makin menggelantung. Padahal, kami sangat ingin menyaksikan Ujung Genteng dan matahari tenggelamnya.

Untunglah menjelang petang, awan tersibak. Kami buru-buru meminta tukang ojek untuk mengantarkan kami ke Batu Besar, lokasi di sebelah Pantai Pangumbahan, cocok untuk melihat matahari tenggelam.

Ketika tiba di sana, sudah ada beberapa orang dengan kamera mereka. Beberapa wisatawan asing yang sedang berselancar juga menjadi objek foto menarik. Memang, ombak di sini sangat pas untukolahraga selancar.

Perjalanan panjang yang kami tempuh dari Jakarta ke Ujung Genteng tidak sia-sia. Pemandangan matahari tenggelam di sini sangat menakjubkan. Sang Surya berwarna jingga tenggelam dalam cakrawala meninggalkan semburat keemasan di langit.

Ujung Genteng di Kabupaten Sukabumi memiliki potensi wisata yang luar biasa. Andai saja ada pengelolaan infrastruktur yang lebih baik dari pemerintah setempat, pasti objek-objek wisata di kawasan ini akan mampu membantu meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat dan pendapatan daerah tanpa merusak kelestarian alam.

Cerita perjalanan Olenka yang lain dapat dibaca di www.backpackology.me

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA