Selasa, 15 Muharram 1440 / 25 September 2018

Selasa, 15 Muharram 1440 / 25 September 2018

Menggunting Kartu Kredit Rahasia Kaya dan Bahagia

Jumat 06 Juli 2018 20:06 WIB

Red: Indira Rezkisari

Kartu kredit

Kartu kredit

Foto: pixabay
Untuk bisa kaya dibutuhkan dulu mental atau karakter kaya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kaya menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah mempunyai banyak harta (uang dan sebagainya). Sosoknya biasa disebut jutawan.

Dan fenomena kaya, selalu menjadi daya tarik dari zaman ke zaman. Ternyata untuk menjadi kaya, tidak serta merta.

Misalkan ada seseorang yang menang lotere atau mendapat rezeki mendadak. Biasanya tidak berapa lama kemudian entah hitungan bulan atau tahun menjadi miskin kembali alias kebalikan dari kaya.

Kenapa bisa begitu? Karena dia tidak punya mental atau karakter kaya.

Beberapa penasihat keuangan memiliki formula umum bagi pemilik masalah keuangan pribadi, atau keuangan keluarga, dan usahanya. "Gunting kartu-kartu kredit Anda, hindari utang, dan hiduplah sederhana," demikian nasihatnya.

Fenomena generasi X dan milenial hari ini, justru punya banyak kartu kredit, hobi utang dan hidup mewah. Karena pada dasarnya, manusia cenderung mencari nikmat dan menghindari sengsara.

Hidup cuma sebentar, nikmati saja, kenapa harus dibuat susah. Padahal jika punya banyak kartu kredit, hobi utang dan hidup mewah, tapi tidak diimbangi melek keuangan, yang terjadi adalah kesedihan di malam hari dan kehinaan di siang hari.

Bagaimana mungkin, menikmati hidup jika tiap hari selalu gelisah?

Teman saya si A, seorang karyawan yang punya routine income bersifat bulanan, yang juga punya strategic income bersifat tahunan, karena beliau juga seorang pengusaha, justru punya banyak kartu kredit. Serta punya banyak utang dan hidupnya mewah dan kaya.

Teman saya si B, justru kebalikan dari si A, beliau menggunting semua kartu kreditnya, melunasi seluruh utang-utangnya dan hari ini menghindari utang. Tetapi hidupnya lebih kaya dan bisa menikmati kekayaannya.

Lain lagi seorang guru dan sahabat saya si C, beliau masih menyisihkan satu kartu kreditnya (setiap kali transaksi. Selalu melunasi tagihan Kartu Kreditnya, tanpa menunggu jatuh tempo atau minimum payment) karena peruntukkannya buat memudahkannya ketika di luar negeri yang tiap bulan beliau lakoni. Beliau masih tetap berutang, walau utangnya disebut good debt alias utang lancar dari aset-aset produktifnya dan beliau hidupnya semurah mungkin.

Menariknya, ketiga-tiganya melek keuangan. Hanya cara mendapatkan aset-asetnya si A dengan cara berutang, si B dengan cara tunai dan si C, bisa kredit atau tunai, tergantung peruntukkannya, apakah skala kecil atau besar.

Tetapi saya yakin di lubuk hatinya yang terdalam, si A tetap gelisah karena harta yang digunakannya, si B dan si C, hidupnya relatif tenang.

Lantas apakah mereka bahagia? Bahagia menurut KBBI adalah keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan), dalam konteks ini adalah utang.

Tentu si A, hidupnya tidak bahagia karena kebiasaan hidupnya sewaktu-waktu 'ketahuan' belangnya. Yakni gaya hidup yang mewah, tetapi menggunakan kartu kredit.

Sebuah kebohongan dan kepalsuan hidup, hanya dari pencitraan akan sampai pada titiknya, saat itulah kehancuran keuangan akan menghampirinya.

Si B dan si C, mereka akan bisa membayar 'kemewahannya' dengan utang lancar dan free cash flow  yang mereka miliki.

Wallahu'alam

Kolom ini diasuh oleh WealthFlow 19 Technology Inc.,Motivation, Financial & Business Advisory (Lembaga Motivasi dan Perencana Keuangan Independen berbasis Sosial-Spiritual Komunitas). Pertanyaan kirim ke email : uang@rol.republika.co.id  SMS 0815 1999 4916.

twitter.com/h4r1soulputra

www.p3kcheckup.com

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Pencari Puing Waduk Jatigede (1)

Senin , 24 September 2018, 23:59 WIB