Minggu, 10 Rabiul Awwal 1440 / 18 November 2018

Minggu, 10 Rabiul Awwal 1440 / 18 November 2018

Dari THR ke TBA (Tunjangan Buat Anak)

Ahad 10 Jun 2018 08:18 WIB

Red: Indira Rezkisari

Anak belajar menabung dengan ibunya.

Anak belajar menabung dengan ibunya.

Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Melatih anak sadar uang paling baik dilakukan sejak dini.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Salah satu ritual keuangan seorang karyawan adalah menerima THR (Tunjangan Hari Raya). Besarannya bervariasi tiap orang dengan masa kerja, jabatan, tanggung jawab dan lainnya.

Tetapi masalah klasiknya adalah seberapa besar dan seberapa kecilnya pemasukan dari THR tersebut, selalu kurang. Apalagi setelah pulang dari kampung halamannnya, bisa dipastikan mengalami defisit keuangan.

Uniknya, ritual ini terjadi tiap tahun selama bertahun-tahun. Hanya sedikit yang melek keuangan THR-nya.

Pada sisi lain, ada dua madzhab keuangan terkait THR ini:

1. THR memang harus dihabiskan, walau tetap dengan perencanaan kebutuhan keuangan.

2. THR tidak harus dihabiskan, tapi diprioritaskan ke utang, investasi dan konsumsi.

Jika kita ambil titik temunya, maka intinya adalah perencanaan keuangan yang sehat. Idealnya, perencanaan Ramadhan dan Lebaran (Hari Raya), sudah dianggarkan satu tahun sebelumnya.

Dan khusus buat keuangan anak, maka 'income anak' yang kita anggarkan buat mereka, seharusnya mulai kita latih sejak dini. Kenapa harus sejak dini?

Karena pembentukan karakter dan mentalitas keberlimpahan (abundance mentality) bisa terjadi jika dimulai dari pola pikir (paradigm) yang benar dan pola tindak (habit) yang akhirnya menjadi pola sikap (character).

Berikut ada tiga langkah yang bisa kita biasakan terhadap anak ketika berinteraksi dengan uang.

1. Saving

Biasakan menghargai diri anak terlebih dahulu, dari manapun sumbernya, selagi halal dan toyyib. Menabung itu merupakan langkah jitu menuju melek investasi. Dengan menabung, kita bisa mempersiapkan masa depan yang belum pasti.

Dan lagi dengan menabung secara benar, kita bisa berpikir untuk masa depan keuangan kita. Lakukanlah berpikir dari akhir.

2. Sharing

Berbagilah, karena dengan berbagi, mentalitas anak akan tumbuh menjadi mentalitas kaya sejati. Semakin dini semakin baik, karena karakter kaya tidak terjadi dalam 1-2 hari, tetapi butuh proses yang panjang. Pun, di sebagian harta kita ada harta orang lain, dan uniknya semakin kita sering berbagi, maka otot karakter kita akan semakin PEKA dengan keadaan sekeliling.

3. Spending

Belanjakanlah uang tersebut sesuai kebutuhan anak Anda. Mulai membiasakan juga untuk membagi mana yang need dan mana yang want serta hope.

a. Need/dibutuhkan, benar-benar kebutuhan si anak.

Misalnya, anak kita memerlukan uang saku buat transportasinya, atau membawa bekal makan siang dari rumah ketika dia sekolah.

b. Want/didapatkan, keinginan yang bisa ditangguhkan.

Misalnya, masih terkait makan, ini lebih ke 'makan-makan'. Contohnya, walau sudah bawa bekal dari rumah, tetapi keinginan untuk makan di kantin sekolah tetap ada. Biasanya dipicu oleh teman-teamannya yang makan di kantin sekolah.

c. Hope/dihasilkan, stimulasi buat keinginan masa depan.

Misalnya, punya uang tabungan buat beli buku, sedekah kepada orang yang tidak mampu atau ingin mendapatkan 'jerih payah' sewaktu Bulan Ramadhan tahun depan, dan lainnya.

Dengan melakukan tiga langkah di atas, pola ini akan tertanam di bawah sadarnya dan anak Anda akan lebih menghargai uang. Wallahu'alam....

Kolom ini diasuh oleh WealthFlow 19 Technology Inc.,Motivation, Financial & Business Advisory (Lembaga Motivasi dan Perencana Keuangan Independen berbasis Sosial-Spiritual Komunitas). Pertanyaan kirim ke email : uang@rol.republika.co.id  SMS 0815 1999 4916.

twitter.com/h4r1soulputra

www.p3kcheckup.com

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES