Rabu, 8 Safar 1440 / 17 Oktober 2018

Rabu, 8 Safar 1440 / 17 Oktober 2018

Financial Knowledge, Kunci Memahami Spiritual Finance

Senin 12 Feb 2018 13:48 WIB

Red: Indira Rezkisari

Mengatur manajemen aliran keuangan.

Mengatur manajemen aliran keuangan.

Foto: ist
Ada banyak cara untuk menjadi pribadi yang matang secara finansial.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bayangkan jika Anda lagi berdiri di depan Ka'bah atau tempat suci lainnya yang membuat Anda sangat merasakan kebesaran dan keagungan Sang Maha Pencipta. Jika baru membayangkannya saja hati Anda sudah bergetar, itu sudah merupakan tanda iman di diri Anda.

Perubahan pada diri seseorang, biasanya karena dua faktor.

Kecelakaan

Berapa banyak orang-orang yang akhirnya merubah kebiasaan buruknya atau ingin merubah nasibnya, ketika mengalami kenyataan pahit.

Teman saya, membeli mobil baru, karena waktu naik motor bersama anak dan isterinya kehujanan dalam perjalanan. Tidak sekedar hujan biasa, tetapi hujan badai yang merobohkan beberapa pohon di sekitarnya. Dikarenakan hal itulah, beliau berteqad sangat kuat untuk punya mobil.

Kesadaran

Di sisi lain, ada beberapa orang yang ingin punya kendaraan, dikarenakan naik angkutan umum ternyata tidak efisien ketika bekerja atau berusaha. Sehingga, mereka menghitung secara detail berapa uang yang dibutuhkan untuk membeli mobil baru tersebut dan bagaimana caranya agar mobil baru tersebut mereka miliki.

Dua faktor inilah yang biasanya mempengaruhi seseorang untuk berubah. Misalnya, ingin menikah, membiayai pendidikan anak, pensiun dan lainnya.

Sesuai tema kali ini, bagaimana pengetahuan tentang keuangan merupakan pintu gerbang memahami Spiritual Finance. Spiritual Finance adalah ilmu yang mempelajari tentang angka-angka yang berhubungan dengan semangat memahami dan disiplin dalam menjalankannya serta tidak melanggar etika dan prinsip-prinsip keuangan spiritual.

Parameter ketika kita menjalankan Spiritual Finance adalah tenang menerima, lapang menyimpan, dan bahagia membelanjakan uang atau harta yang kita punya dalam irama ridho Allah SWT.

Paling tidak ada 3 hal yang menjadi dasar agar pemahaman kita tentang Spiritual Finance bertambah.

Pemicu

Tadi sudah saya jelaskan alasan mengapa orang mau berubah, yakni karena faktor kecelakaan atau kesadaran.

Kesadaran ini dipengaruhi 3 level keyakinan:

a. Orang yang meyakini segala sesuatu berdasarkan ilmu

Misalkan pengetahuan tentang emas. Sejak zaman dahulu, orang sudah menyimpan emas agar kekayaannya tidak hilang. Jika di masyarakat Minang, ada pepatah agar menyimpan Ameh (emas) dan Padi (beras) agar bisa survive. Sebelum era LM (Logam Mulia) dan koin (Dinar Emas), emas perhiasan merupakan 'investasi' yang disenangi ibu-ibu, selain bisa dipamerkan, juga bisa dijual kembali dengan nilai yang lebih tinggi. Karena 'ilmu' turun temurun inilah, maka pengetahuan tentang emas menjadi jamak di masyarakat kita.

b. Orang yang meyakini segala sesuatu karena melihat langsung dengan mata dan kepalanya

Bagi yang sudah naik ke level kedua ini, pengetahuan saja tidak cukup, tetapi mereka melihat langsung, bagaimana kakek neneknya, atau ibu bapaknya membeli, menyimpan dan mencairkan emas mereka. Sehingga bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi. Padahal orang tuanya, hanya lulusan SR/SD. Fakta inilah yang susah dibantah, karena mereka menyaksikan sendiri dengan mata kepalanya.

c. Orang yang meyakini segala sesuatu karena telah menjalankan dan terbukti kebenarannya

Ini level paling tinggi, mereka sendiri yang menjalankan dan terbukti kebenarannya. Misalkan, bagi mereka yang menyimpan dana daruratnya, selain uang tunai di tabungan dan deposito, juga menyimpannya dalam bentuk emas LM.

Ketika mereka butuh dana tersebut, tinggal mereka lepas ke temannya atau langsung ke toko emas dekat tempat tinggalnya. Artinya, uang langsung cair dan dana darurat bisa digunakan.

Pemicu yang dibarengi oleh pengetahuan yang dipraktikkan akan lebih powerfull dalam memahami Spiritual Finance, apalagi jika cara mendapatkan, menyimpan dan membelanjakannya tidak melanggar ketentuan dari Allah SWT.

Pembiasaan

Ada dua sikap mental yang berpengaruh dalam hal keuangan seseorang, yakni:

a. Mental sadar miskin

Mental ini biasanya menjangkiti orang-orang yang tidak tahu tentang pengetahuan keuangan (financial knowledge). Misalkan seseorang miskin yang belum punya rumah, tiba-tiba dapat uang gusuran dari harta orang tuanya. Begitu dapat 'uang kaget' tersebut, langsung foya-foya, dan bisa ditebak, begitu setahun kemudian kembali miskin. Jadi seberapa banyak pun uang yang mereka pegang, pastinya akan habis juga.

b. Mental sadar kaya

Ini adalah kebalikannya, mereka yang mendayagunakan pengetahuan keuangan yang mereka miliki untuk menuju kaya. Jika pun mereka belum kaya, mereka akan mencari guru atau mentor agar mereka menjadi kaya. Artinya, mereka sudah punya Mental Sadar Kaya. Orang-orang ini, sangat tahu bagaimana mendayagunakan uang di tangannya. Dan untuk mencapai Mental Sadar Kaya tersebut, perlu pembiasaan.

Misalnya melakukan sedekah, silaturahim dan sinergi setiap hari kepada 'sosok kaya', agar energi dan semangat kaya-nya bisa menular. Paling tidak, ketika mereka dapat gusuran seperti pada kasus Mental Sadar Miskin, mereka tahu cara menabung dan berinvestasi. Dengan investasi inilah, maka kekayaan riil-nya akan mereka dapatkan.

Penghargaan

Sesuatu jika dilakukan terus menerus, melakukan Kaizen (improvment/perbaikan terus menerus), pastinya akan mendapatkan hasil atau penghargaan. Bahkan ada istilah "istiqomah membawa karomah", karomah disini bermakna penghormatan atau penghargaan dari Allah SWT. Maka Spiritual Finance bukan sekedar rekayasa dan peramalan keuangan bersifat duniawi, tetapi juga ukhrowi.

Dengan kata lain, jika kita ingin peningkatan dari waktu ke waktu dalam aspek keuangan, maka kata kuncinya adalah kuasai pengetahuan leuangan (Financial Knowledge) dan jalankan secara bertahap sembari speed-nya kita naikkan.

Kolom ini diasuh oleh WealthFlow 19 Technology Inc.,Motivation, Financial & Business Advisory (Lembaga Motivasi dan Perencana Keuangan Independen berbasis Sosial-Spiritual Komunitas). Pertanyaan kirim ke email : uang@rol.republika.co.id  SMS 0815 1999 4916.

twitter.com/h4r1soulputra

www.p3kcheckup.com

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA