Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

5 'Kebohongan Putih' Orang Tua pada Anak

Kamis 27 Sep 2018 09:20 WIB

Rep: Mutia Ramadhani/ Red: Indira Rezkisari

Ibu dan anaknya

Ibu dan anaknya

Foto: Republika/Prayogi
Terkadang orang tua butuh berbohong demi kebaikan anak.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Semua orang tua selalu mengatakan kepada anak-anaknya bahwa berbohong itu tidak baik, namun terkadang mereka tanpa sadar atau sengaja melontarkan 'kebohongan putih' atau white lie pada buah hati. Orang tua yang bercanda dengan berbohong kepada anaknya kerap dilatarbelakangi alasan kuat, misalnya tak mau anaknya mengalami hal-hal buruk.

Kebohongan putih dilakukan demi kebaikan anak. Berikut lima contoh kebohongan putih yang sering dikatakan ayah atau ibu pada anaknya, dilansir dari Female First, Kamis (27/9). Ini berdasarkan sebuah survei di Inggris.

Mainan dibilang rusak (55 persen)
Anda mungkin membelikan mainan yang membuat anak memainkannya tanpa henti, misalnya mainan yang terus dipukul atau mainan yang berdengung dan terus mengeluarkan suara berisik. Anak memainkannya tak kenal waktu, siang, pagi, bahkan malam hari menjelang waktu istirahat.

Banyak orang tua sengaja 'mengerjai' mainan anaknya dengan mengatakan mainannya rusak. Mainan yang menggunakan baterai langsung dicabut baterainya. Mainan yang membutuhkan sambungan listrik langsung dicabut kabelnya.

Berbohong tentang gaya pengasuhan anak (49 persen)
Banyak ibu tidak mengatakan gaya pengasuhan sesungguhnya yang dia terapkan di rumah kepada teman-temannya. Hal-hal buruk dan sedikit memalukan sering disembunyikan.

Ibu misalnya sengaja menyimpan banyak setumpuk cokelat atau keripik di kulkas untuk anak-anaknya. Mereka memberikannya nyaris setiap hari. Namun, ibu tak pernah menceritakan anaknya sering makan es krim di rumah kepada teman-temannya.

Mengatakan tempat bermain sudah tutup, padahal tidak (21 persen)
Anak terkadang meminta orang tua mengajak mereka ke tempat bermain, apakah itu taman, pusat bermain, dan sebagainya tak kenal waktu. Orang tua sering mengatakan bahwa tempat yang dimaksud sudah tutup dan menjanjikan mereka akan kembali besok hari atau di akhir pekan.

Menyembunyikan makanan tidak sehat yang dibeli anak (17 persen)
Orang tua kadang mendapati tas anaknya berisi cokelat atau permen dan mereka tak ingin si kecil memakannya. Orang tua pun mengambil makanan-makanan tersebut dan berpura-pura tak sengaja memakannya.

Saat anak bertanya di mana makanannya, ibu atau ayah biasanya berpura-pura minta maaf karena tak sengaja menghabiskan makanan anaknya. Anak pun sedikit kesal, namun tak bisa marah berkepanjangan, sebab orang tuanya sudah menyesal dan meminta maaf.

Berpura-pura menelepon polisi saat anak nakal (15 persen)
Orang tua sering berpura-pura menelepon polisi atau sosok lain yang cenderung ditakuti anak. Hal itu kerap dilakukan ketika perilaku anak semakin tak terkendali atau saat anak nakal.



Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA