Kamis, 7 Syawwal 1439 / 21 Juni 2018

Kamis, 7 Syawwal 1439 / 21 Juni 2018

Perjuangan Orang Tua Sembuhkan Anak dari Kecanduan Gim

Selasa 12 Juni 2018 08:21 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Yudha Manggala P Putra

Bermain video game.

Bermain video game.

Foto: Reuters
Ibu asal London, Kendal Parma menceritakan pengalaman punya anak pecandu gim.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Era digital bukan tidak mungkin membuat anak kecanduan bermain gim, baik yang diakses lewat perangkat khusus maupun jaringan internet. Hal itu bisa mendampak siapa saja, termasuk putra remaja dari ibu asal London, Kendal Parmar.

Parmar menceritakan, putranya selalu aktif dalam olahraga di sekolahnya. Tetapi, semua berubah setelah dia mengakses situs daring gim video bernama Twitch. Anaknya menjadi sangat kecanduan sampai-sampai melewatkan satu tahun sekolah.

"Setiap bangun pagi, dia ingin bermain gim. Dia tidak peduli dengan dunia luar. Awalnya kami tidak menganggap ini serius. Tetapi kemudian dia harus dirawat di rumah sakit selama delapan pekan karena sakit," kata Parmar.

Putranya diberi asupan tablet vitamin D untuk mengimbangi kurangnya paparan sinar matahari karena dia tidak pernah bermain keluar. Melihat kondisi putranya itu, Parmar berkampanye agar Layanan Kesehatan Inggris (NHS) lebih memperhatikan kasus kecanduan gim internet.

Setelah tiga tahun, kampanye Parmar berhasil dan NHS memberikan terapi yang dibutuhkan untuk sembuh total dari kecanduan itu. Penerimaan NHS terhadap kasus putranya terjadi enam bulan setelah keputusan yang diumumkan Organisasi Kesehatan Dunia PBB (WHO).

WHO menetapkan "gangguan bermain" sebagai kondisi kesehatan mental, yang digambarkan sebagai pola perilaku permainan gigih atau berulang sangat parah sehingga mengambil alih waktu yang seharusnya dialokasikan untuk aktivitas penting lainnya.

Keputusan itu disambut baik oleh para ahli di lapangan, termasuk Dr Richard Graham yang menangani sekitar 50 kasus kecanduan digital setiap tahun. Menurut dia, penanganan itu perlu karena memengaruhi hal-hal dasar seperti tidur, makan, bersosialisasi, dan pendidikan.

"Hal ini penting karena menciptakan peluang untuk layanan yang lebih khusus dan menempatkannya sebagai sesuatu yang harus dianggap serius," kata spesialis kecanduan teknologi di Rumah Sakit Nightingale, London, itu, dikutip dari laman Express.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES