Selasa, 12 Rabiul Awwal 1440 / 20 November 2018

Selasa, 12 Rabiul Awwal 1440 / 20 November 2018

Enam Permainan yang Buat Anak Makin Pintar

Rabu 30 Mei 2018 00:13 WIB

Rep: Christiyaningsih/ Red: Indira Rezkisari

Sejumlah anak bermain layang-layang di Kawasan Setu Babakan, Jakarta, Selasa (22/5).

Sejumlah anak bermain layang-layang di Kawasan Setu Babakan, Jakarta, Selasa (22/5).

Foto: Republika/Mahmud Muhyidin
Permainan yang melatih otak anak membantunya tumbuh menjadi dewasa yang tangkas.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mengasah kecerdasan anak sejatinya lebih dari sekadar mengajarkan huruf dan angka. Anak-anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang pintar dan pengatur strategi yang andal lewat permainan. Permainan yang dimaksud tentu saja bukan permainan lewat gawai seperti yang jamak diberikan orang tua di era digital dewasa ini.

Laura Markham, penulis buku 'Peaceful Parent, Happy Kids' menuturkan ada beberapa permainan yang bisa melatih otak anak. Dengan permainan tersebut, anak-anak dilatih menjadi orang yang cerdas dan tangkas dalam menyongsong masa depan. Dilansir dari Business Insider, inilah enam jenis permainan yang sebaiknya anda kenalkan kepada buah hati anda.

Permainan tak Berstruktur

Menurut Markham permainan tak berstruktur memungkinkan anak mempelajari banyak hal baru. "Mereka bereksperimen dengan dunia," katanya.

Permainan ini melatih anak mengendalikan diri, mencari tahu bagaimana sesuatu bekerja, dan belajar bekerja sama dengan orang lain untuk menyelesaikan masalah. "Kami tahu permainan berpura-pura menjadi sesuatu sangat penting bagi anak-anak. Mereka belajar mengendalikan diri dan menghadapi konflik," ujar Markham.

Sebuah studi pada 2014 di jurnal Childhood Education menemukan permainan tak berstruktur merangsang ketrampilan kerja sama anak, membangun pengetahuan dengan cara meniru, dan memberi sudut pandang pada anak mengenai usaha dan kegagalan.

Bermain saat mandi

Jadikan waktu mandi menjadi saat-saat yang menyenangkan. Bereksperimen dengan aliran air dan mengukur berapa banyak volume air yang dapat ditampung di wadah yang berbeda-beda mengajak anak mengenal matematika. Demikian yang dikatakan oleh Markham.

Permainan dengan papan

Jauhkan anak-anak dari layar gawai dan bermainlah dengan permainan yang melibatkan para anggota keluarga. Markham menyarankan para orang tua mengenalkan anak pada permainan yang mengajarkan kerja sama. Contohnya seperti bermain dengan papan permainan.

Di luar negeri permainan papan yang umumnya dikenal adalah The Secret Door dan Connect 4. Bagi anak-anak yang masih kesulitan berbicara, Markham menganjurkan orang tua agar mengenalkan permainan berbasis angka, bentuk, dan warna.

Seni

Mengenalkan aneka macam seni berdampak baik bagi anak karena mengajarkan bagaimana cara berekspresi. Anak-anak usia pra TK biasanya senang mewarnai. Namun ketika usia mereka makin dewasa, anak-anak merasa frustrasi jika menggambar sapi tapi tidak mirip dengan bentuk sapi asli. Tak jarang karena merasa gagal, anak-anak berhenti mempelajari seni.

Menurut Markham kondisi tersebut justru membuat anak kehilangan kesempatannya untuk meluapkan ekspresi. Bermain tanah liat atau clay juga sarana yang baik untuk belajar seni. Ia meyakini anak-anak perlu diajarkan tentang seni demi mendukung tumbuh kembang mereka.

Bermain di alam

"Ketika anak-anak bermain di luar ruangan, mereka menjadi lebih tenang dan lebih bahagia," tutur Markham. Teori yang sama juga berlaku untuk orang dewasa.

Markham percaya mengajak anak-anak berkemah, membuat api unggun, naik gunung, dan mengamati burung-burung di alam sangat bagus bagi kecerdasan mereka. Segala hal yang berhubungan dengan alam dan menjauhkan anak dari layar gawai atau televisi disebutnya baik bagi perkembangan anak.

Membuat jurnal bersama

Orang tua dan anak dapat mempererat hubungan dengan cara membuat jurnal bersama. Dengan punya jurnal bersama, anak-anak akan merasa lebih leluasa dalam mengungkapkan isi hatinya kepada orang tuanya. Hal-hal yang terasa berat dibicarakan akan lebih mudah disampaikan anak lewat tulisannya di jurnal.

Anak dapat diajak melakukan kegiatan ini apabila umurnya sudah menginjak delapan tahun. "Kalau Anda bingung dari mana memulainya, mulailah menulis hal-hal yang singkat. Berikan anak respons yang cepat supaya mereka tidak kehilangan minat," ungkap Markham.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES