Wednesday, 6 Syawwal 1439 / 20 June 2018

Wednesday, 6 Syawwal 1439 / 20 June 2018

Pernikahan yang Baik tidak Membuat Gemuk

Rabu 14 March 2018 08:57 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Winda Destiana Putri

Pasangan kakek nenek, ilustrasi

Pasangan kakek nenek, ilustrasi

Foto: Telegraph
Pernikahan selalu berkaitan dengan penambahan berat badan yang berlebihan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pernikahan yang bahagia selalu identik dengan manfaat bagi kesehatan, mulai dari usia hidup lebih lama, hingga mengurangi risiko terkena penyakit jantung. Namun, pernikahan selalu berkaitan dengan penambahan berat badan yang berlebihan.

Studi baru yang dirilis di jurnal Health Psychology justru menyatakan, jika pernikahan yang baik dan saling mendukung kecil kemungkinan menambah berat badan pada usia paruh baya. Ketika pernikahan itu semakin baik, maka kemungkinan penambahan berat badan pun semakin kecil.

"Studi ini menunjukkan hubungan perkawinan yang mendukung dikaitkan dengan bobot tubuh yang lebih sehat pada usia paruh baya," kata rekan penulis studi dan ahli post doctoral didepartemen epidemiologi di Harvard T.H. Chan School of Public Health Ying Chen, dikutip dari TIME, Rabu (14/3).

Chen menekankan, jika penelitian tersebut menjadi bukti, jika hubungan sosial yang positif merupakan aset bagi kesehatan. Pernyataan tersebut pun didukung dengan penelitian terhadap hampir 2.650 orang yang telah menikah dan menjalani hubungan jangka panjang.

Dalam studi tersebut, mereka dilihat tingkat dukungan dan ketegangan dalam pernikahan, serta kualitas secara keseluruhan dalam hubungan. Periset meminta mereka untuk memberikan nilai numerik pada hubungan berdasarkan hal-hal sebelumnya, dan selanjutnya melihat kenaikan berat badan selama sembilan tahun.

Dari hasil itu, ditemukan jika orang-orang dengan tingkat kualitas dan dukungan pernikahan yang tinggi tidak memberikan kenaikan berat badan yang berlebihan dari waktu ke waktu. Untuk setiap peningkatan skala kualitas perkawinan, orang memperolehsekitar tiga perempat pound lebih sedikit daripada pernikahan yang kualitas kurang selama masa tindak lanjut dan memiliki risiko obesitas 10 persen lebih rendah. Sedangkan untuk setiap langkah pada skala dukungan, mereka memperoleh sekitar 1,5 kilogram lebih sedikit dan memiliki risiko obesitas 22 persen lebih rendah.

Hal menarik menurut Chen, justru terlihat pada ketegangan perkawinan tidak tampak sangat memengaruhi penambahan berat badan dengan cara apapun. "Ada kemungkinan pasangan paruh baya tinggal dalam hubungan perkawinan untuk waktu yang lebih lama dan mungkin telah mengembangkan strategi efektif mengatasi pengalaman pernikahan yang negatif," kata Chen.

Studi tersebut mencoba memperlihatkan menikah mungkin membuat orang muda lebih lemah tentang berat badan mereka, karena mereka tidak perlu lagi khawatir untuk menemukan pasangan. Orang tua yang sudah menikah mungkin memiliki nilai yang berbeda dan memprioritaskan kesehatan diluar konteks penampilan fisik.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Pencarian Korban KM Sinar Bangun

Rabu , 20 June 2018, 18:09 WIB