Monday, 9 Rabiul Awwal 1442 / 26 October 2020

Monday, 9 Rabiul Awwal 1442 / 26 October 2020

Kematian Ayah Pengaruhi Tumbuh Kembang Anak

Senin 19 Feb 2018 20:01 WIB

Rep: Mutia Ramadhani/ Red: Indira Rezkisari

Anak perempuan dan ayahnya.

Anak perempuan dan ayahnya.

Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Anak yang orangtuanya meninggal di usia dini cenderung lebih mudah cerai.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kehilangan orang tua, terlebih ayah karena kematian memengaruhi tumbuh kembang anak yang masih kecil. Studi penelitian BL Hoeg dan teman-temannya yang diterbitkan di Journal of Health Psychology 2016 menunjukkan anak-anak tersebut cenderung mudah depresi, cemas, suka menyiksa diri, menyalahgunakan obat-obatan, hingga makan berlebihan.

Penelitian lainya oleh Kirk Patrick di Journal of Personality and Social Psychology menyebutkan anak-anak yang ditinggal orang tua ketika masih kecil bisa jadi sukses secara sosial, finansial, menikmati hidup berkualitas, sehat secara fisik. Namun tidak sehat secara mental.

Dilansir dari Psychology Today, Senin (19/2), Hoeg kembali menganalisis data terbaru 2018 dari populasi penduduk di Denmark. Tim menggunakan data 1,5 juta penduduk sepanjang 1970-1995 berdasarkan gender, usia, kematian, silsilah keluarga, dan direferensikan dengan penyebab kematian orang tua.

Peneliti juga memasukkan informasi tentang pendidikan, pendapatan rumah tangga, dan penyakit kejiwaan. Hoeg menemukan 4,5 persen dari populasi Denmark yang dijadikan obyek penelitian kehilangan orang tua mereka ketika masih kecil.

Sebanyak 70 persen orang tua yang meninggal adalah ayah dan 30 persennya ibu. Sebanyak 12 persen ayah mati karena bunuh diri. Sekitar 50 persen populasi kehilangan orang tua saat masih remaja, dan separuh lainnya pada usia yang lebih muda.

Hampir 430 ribu pria dan 440 ribu wanita yang ditinggal mati ayah ibunya telah menikah. Dari jumlah tersebut, sebanyak 209 ribu pria dan 218 ribu wanita memutuskan bercerai dengan pasangan masing-masing.

Baik pria atau wanita yang ditinggal orang tua pada usia masih muda berisiko besar mengalami perceraian dalam pernikahan. Perceraian semakin cepat terjadi pada mereka yang orang tuanya meninggal karena bunuh diri.

Wanita yang kehilangan orang tua saat masih kecil cenderung ingin menikah muda, melahirkan anak, namun rumah tangganya tidak berlangsung lama. Anehnya, kondisi demikian tidak ditemukan pada anak yang kehilangan ibu.

Studi ini menyoroti betapa pentingnya sosok ayah bagi anak, terutama saat usia anak masih remaja. Jika yang meninggal adalah ibu, ini mungkin karena ayah lebih mungkin untuk menikah lagi, sehingga anak yang kehilangan ibunya mendapat dukungan dari keluarga baru.


BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA