Tuesday, 5 Syawwal 1439 / 19 June 2018

Tuesday, 5 Syawwal 1439 / 19 June 2018

Olimpiade Dolanan Anak, Upaya RBI Lestarikan Permainan Tradisional

Kamis 13 October 2016 11:42 WIB

Red: Israr Itah

Suasana Rumah Belajar Ilalang (RBI) Jepara

Suasana Rumah Belajar Ilalang (RBI) Jepara

Foto: Istimewa

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- “Kita tidak berhenti bermain karena menua, kita menua karena berhenti bermain.” Kutipan dari George Bernard Shaw, pemenang Nobel Sastra 1925 menjadi salah satu inspirasi sekelompok anak muda Jepara untuk bergerak menghidupkan lagi permainan tradisional.

Mereka terusik dengan kemajuan zaman kian menggerus posisi permainan tradisional. Anak-anak lebih mudah mengakses permainan digital daripada tradisional. Padahal, permainan tradisional punya banyak manfaat, baik fisik maupun emosional. Ini yang menggugah para pemuda di Jepara proaktif melestarikan permainan tradisional.

Tergabung dalam Rumah Belajar Ilalang (RBI), anak-anak muda Jepara, dibantu beberapa komunitas lain menggelar acara Olimpiade Dolanan Anak (Odolan) pada 14 – 15 Oktober 2016 di Jepara.

“Bermain mempunyai manfaat yang cukup besar, terutama bagi perkembangan jiwa anak, seperti emosi, fisik atau motorik, kognitif, serta sosial. Semua manfaat yang tersebut dapat kita jumpai dalam segala macam permainan tradisional,” ujar Hasan, penggagas RBI dalam rilis yang diterima Republika.co.id, Kamis (13/10).

Selain sebagai upaya pelestraian permainan tradisional, kegiatan ini juga menjadi wadah menggali potensi kreativitas anak melalui ajang temu antarkomunitas pegiat anak. Menurut Hasan, mereka percaya semakin banyak kegiatan yang mendorong kreativitas anak-anak, akan semakin besar pula kemampuan mereka mengembangkan imajinasi yang mencerdaskan.

Lahir pada 2012, semula RBI baru aktif menghadirkan taman baca bagi anak-anak Desa Kecapi, Kecamatan Tahunan. Kebanyakan dari mereka anak buruh meubel dan petani. Taman baca itu disambut baik. Namun untuk menghindari kejenuhan membaca, diadakanlah kegiatan bermain bersama tiap Jumat.

Gobak sodor dan bentengan jadi dua jenis permainan yang diajarkan dengan baik karena banyak dari anak-anak itu yang tak lagi mengenal kedua permainan tersebut. Acara bermain itu lalu dirutinkan dan diberi nama Jumat Akrab.

Setahun kemudian, RBI memberanikan diri membuat acara Odolan. Kala itu pesertanya hanya anak-anak sekolah di sekitar. Antuasismenya tinggi. Terbukti seusai gelaran perdana itu RBI diminta untuk datang ke beberapa sekolah dan kampung. Tujuannya sekadar mengajak anak-anak bermain.

Pada 2014 RBI tidak hanya membuat event olimpiade dolanan, tapi sudah mulai mendata dolanan-dolanan tradisional yang ada di sekitar Desa Kecapi. Kami mendapatkan temuan salah satunya “embek-embekan” atau jika dilihat dari cara bermainnya bisa juga disebut gulat.

“Permainan ini sering dimainkan oleh cah angon (penggembala kambing). Sambil menunggui ternak, mereka bermain di sawah, ladang, dan di tempat kambing merumput. Di Odolan kedua kami mampu mengumpulkan setidaknya 50 dolanan baik yang dimainkan secara bersamaan atau satu lawan satu,” ujar Hasan yang juga aktif mendongeng.

Pada tahun ke empat ini, Odolan hadir dalam berbagai bentuk yaitu pertunjukkan dolanan, diskusi publik berkaitan dengan tingkah anak-anak, film, fotografi, dan lain-lain. Akan ada pula pertunjukan kolosal melibatkan 300 anak SD dan PAUD dari  lima sekolah di tiga kecamatan. Mereka akan memainkan Rangku Alu dari Maluku.

Odolan tahun ini akan mempunyai empat agenda utama. Pertama,  swakarya. Anak-anak diajak berkarya sesuai dengan kreativitasnya dengan media barang bekas dan media dari alam, bambu, daun dan tanah liat. Hasil karya akan dipamerkan untuk diapresiasi orang dewasa. Selanjutnya karya bisa dilelang atau dibawa pulang.

Kedua, kandang dolanan. Anak-anak dibuatkan wahana bermain permainan tradisional dakon, patilele, egrang, kelereng, lompat karet, damdaman, bekelan, rangka alu, dan lain-lain. 

Ketiga, gojek Bocah, yakni ruang apresiasi seni yang akan diisi oleh anak-anak, tari, musik, gamelan, puisi, dan lain-lain. Terakhir siskusi publik yang diisi sejumlah orang tua, guru, permerhati anak, dan akademisi yang diundang untuk membincangkan persoalan kejiwaan anak dan turunannya.

“Dari kegiatan olimpiade dolanan anak kami berharap akan tercipta suatu kolaborasi dan ide – ide baru menyangkut pendampingan terhadap anak,” kata Hasan.

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES