Monday, 18 Zulhijjah 1440 / 19 August 2019

Monday, 18 Zulhijjah 1440 / 19 August 2019

Mengiming-imingi Anak tak Selalu Baik

Kamis 05 Feb 2015 19:57 WIB

Red: Indira Rezkisari

Anak sekolah tengah berjalan kaki.

Anak sekolah tengah berjalan kaki.

Foto: Republika/Edi Yusuf

REPUBLIKA.CO.ID, Iming-iming atau menjanjikan sesuatu agar anak mendapat nilai baik dalam pelajaran, ternyata ada dampak negatifnya.

Psikolog anak dan keluarga, Sani B Hermawan, Psi, mengungkapkan iming-iming tidak akan menumbuhkan kesadaran anak untuk berprestasi secara akademik.

"Iming-iming tidak sehat untuk anak. Tidak akan menumbuhkan kesadaran anak. Lebih baik, anak tidak diberi iming-iming dari awal," ujar Sani.

Menurut Sani, ketimbang iming-iming, lebih baik orang tua memberlakukan semacam target pada anak yang tidak bersifat memaksa. "Misalkan, anak mendapatkan nilai 7. Kita gali, diskusi, tanya mengapa dapat nilai 7,  nanti kita bicarakan ke anak, bisa enggak, di ujian berikutnya dapat nilai 8. Jadi, pelan-pelan," kata Sani.

Kemudian, lanjut dia, jika prestasi akademik anak belum sesuai harapan orang tua, sebaiknya dicari akar permasalah.

"Jangan dimarahi, dihina, diejek, diberi label tidak mampu. Cari solusinya. Apakah memang dia tidak mengerti, apakah tidak teliti, atau kemampuanya di satu pelajaran tertentu memang kurang," ungkap Direktur Lembaga Psikologi Daya Insani itu.

Di samping itu, Sani juga menekankan pentingnya peran orang tua sebagai suri tauladan bagi anak. "Orang tua harusnya menjadi role model. Misalnya ibunya tidak bekerja, bisa mencotohkan dengan rajin membaca koran di depan anaknya. Nanti anaknya melihat, orang tuanya membaca, lalu mengikutinya," pungkas dia.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA