Wednesday, 8 Safar 1440 / 17 October 2018

Wednesday, 8 Safar 1440 / 17 October 2018

Duh, Ayah Galau Bikin Bayi Rewel, Kok Bisa?

Sabtu 30 Jun 2012 08:04 WIB

Red: Endah Hapsari

Ayah dan bayi menangis

Ayah dan bayi menangis

Foto: telegraph.co.uk

REPUBLIKA.CO.ID, Bayi menangis berlebihan? Jangan buru-buru menyalahkan sang ibu. Tangis bayi yang berlebihan yang juga dikenal sebagai kolik, baru-baru ini ditemukan, ada hubungannya juga dengan depresi yang diderita ayahnya.

Secara sederhana, penelitian dari Belanda itu menunjukkan ayah yang memiliki gejala depresi kemungkinannya dua kali lebih besar untuk memiliki bayi kolik ketimbang yang tidak depresi.

Temuan dari penelitian ini menyebutkan, depresi ayah yang berkelanjutan berhubungan dengan peningkatan risiko kolik di kalangan bayi. `'Penelitian ini diharapkan bisa menginspirasi calon ayah yang mempunyai gejala depresi untuk mencari bantuan pengobatan,'' kata Dr Mijke P van den Berg.

Van den Berg, dari Erasmus Medical Center di Rotterdam, dan kawan-kawan mengukur gejala depresi pada beberapa ribu pasangan ketika sang ibu mengandung 20 minggu. Mereka menemukan sekitar 12 persen ayah dan 11 persen ibu menunjukkan gejala depresi. Misalnya, mereka megiyakan pertanyaan tentang perasaan sendiri, sedih, tak berdaya atau tak berharga, tak punya `minat apa pun' atau terlintas pikiran `mengakhiri hidup'.

Kemudian, ketika bayi-bayi dari orangtua ini mencapai usia dua bulan, para peneliti mendapatkan laporan orangtua bahwa mereka menangis berlebihan. Ada 4.426 bayi usia dua bulan yang diteliti dalam riset ini.

Secara keseluruhan, 4,1 persen ayah yang depresi dibandingkan 2,2 persen yang tidak depresi memiliki anak yang menangis setidaknya tiga jam sehari selama tiga hari atau lebih pada pekan sebelumnya.

Tangis bayi yang berlebihan, dalam data penelitian yang diungkap di jurnal Pediatrics edisi Juli 2009, lebih banyak muncul  di antara ayah bunda yang mengalami depresi.  Lebih jauh lagi, penyesuaian gejala depresif yang terjadi pada sejumlah pasangan tak mengubah hasil penelitian ini. Para peneliti menduga temuan ini bisa jadi berhubungan secara tak langsung dengan faktor perkawinan, stres atau kondisi ekonomi keluarga.

Biasanya, riset dan praktik klinis difokuskan pada pengaruh depresi ibu dan setelah kehamilan. `'Penelitian ini menunjukkan kesehatan mental ayah saat ibu mengandung ternyata juga berpengaruh,'' kata van den Berg.

Sumber : Reuters
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA