Sunday, 12 Sya'ban 1441 / 05 April 2020

Sunday, 12 Sya'ban 1441 / 05 April 2020

Pemberian ASI Eksklusif Tekan Angka Kematian Bayi 22 Persen

Selasa 03 May 2011 20:49 WIB

Red: Krisman Purwoko

REPUBLIKA.CO.ID,BOGOR--Pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara ekslusif melalui inisiasi menyusui dini dapat menekan angka kematian bayi hingga 22 persen. "Dengan Inisiasi menyusui dini (IMD) dapat mengurangi angka kematian bayi hingga 22 persen," kata Ketua Umum Sentra Laktasi Indonesia (Selasi) dr.Utami Roesli, saat ekspose di hadapan Wakil Wali Kota Bogor, yang dihadiri pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di lingkungan Pemerintah Kota Bogor, Selasa.

Utami mengatakan, IMD sangat penting bagi bayi karena kontak antara kulit bayi dengan ibu selama minimal satu jam setelah melahirkan itu yang menjadi kuncinya. Dijelaskannya, kulit ibu bersifat termoregulator, karena kulit dada ibu yang melahirkan satu derajat lebih panas dari ibu yang tidak melahirkan. "Jika bayinya kedinginan, suhu kulit ibu otomatis naik dua derajat untuk menghangatkan bayinya dan demikian sebaliknya," kata Utami.

Lebih lanjut Utami menyebutkan, dalam proses IMD ini, bayi akan menjilati kulit ibunya untuk mengkonsumsi sejumlah bakteri yang ia perlukan. Bakteri ini nantinya akan berkembang biak membentuk probiotik di kulit dan usus si jabang bayi.

IMD ini juga dapat merangsang pengeluaran hormon oksitoksin pada ibu yang dapat mengurangi resiko pendarahan. "Dengan demikian berarti bahwa proses alamiah ini juga mampu menekan angka kematian ibu melahirkan," katanya.

Dalam eksposnya Utami juga menegaskan pemberian ASI secara eksklusif selama enam bulan sangat penting bagi tumbuh kembang bayi. "Setelah lima bulan 29 hari, baru bayi diperbolehkan diberi makanan pendamping ASI dan sebisa mungkin hindari makanan pabrik," kata Utami berpesan.

Utami menambahkan, dalam tumbuh kembang bayi konsumsi yang baik untuk bayi adalah beras atau jagung giling yang dimasak dengan campuran ASI. Ia mencontohkan, jika seorang ibu menggunakan susu formula untuk bayinya, setiap enam bulan ia harus mengeluarkan kurang lebih Rp3 juta untuk keperluan susu formula. Sedangkan ASI bersifat ekonomis.

Ia menyarankan, pemberian ASI ini dioptimalkan hingga usia bayi mencapai dua tahun atau lebih.
"Begitu banyak manfaat yang diberikan Tuhan sedemikian rupa lewat proses ini. Jadi betapa sombongnya kita jika mengabaikan semuanya, berikanlah ASI secara ekslusi kepada bayi kita," katanya.

Wakil Wali Kota Bogor, Achmad Ru'yat, yang hadir dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa sosialisasi ini amat penting karena sampai saat ini masih berkembang paradigma yang salah di kalangan ibu-ibu. "Dengan alasan kecantikan banyak ibu yang ragu memberikan ASI pada buah hatinya. Padahal ASI ini penting karena mengandung banyak asam amino dan colostrum yang baik untuk pertumbuhan anak kita," katanya.

sumber : antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA