Thursday, 7 Rabiul Awwal 1440 / 15 November 2018

Thursday, 7 Rabiul Awwal 1440 / 15 November 2018

Penelitian Ungkap Mengapa Donat Digemari Masyarakat

Jumat 22 Jun 2018 06:05 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Nur Aini

Donat

Donat

Foto: Flickr
Makanan yang mengandung karbohidrat dan lemak memicu dopamin.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Donat sangat sulit untuk ditolak sebagai kudapan. Ternyata ada alasan secara ilmiah camilan satu ini begitu populer di masyarakat.

Sebuah penelitian yang dirilis Cell Metabolism tentang bagaimana otak manusia merespons makanan mencoba mengurainya. Dalam studi itu telah menemukan makanan yang tinggi karbohidrat dan lemak memicu aktivitas dalam jumlah yang sangat besar di pusat penghargaan otak.

Dana Small di Yale University dan rekannya mengamati aktivitas otak para sukarelawan yang lapar karena mereka diperlihatkan gambar makanan yang tinggi karbohidrat, seperti permen, tinggi lemak, seperti keju, atau tinggi di keduanya, seperti donat. Setelah pemindaian, para relawan diminta untuk menawar uang dalam lelang yang kompetitif untuk makanan yang mereka inginkan untuk camilan.

Dibandingkan dengan makanan yang hanya mengandung karbohidrat atau lemak, tim menemukan hal menarik. Makanan dengan tinggi di dua jenis kandungan itu memicu lebih banyak aktivitas di striatum otak atau sebuah wilayah yang terlibat dalam penghargaan yang melepaskan dopamin kimia yang terasa nyaman. Para relawan juga bersedia membayar lebih untuk camilan yang tinggi karbohidrat dan lemak, meskipun semua makanan memiliki nilai kalori yang sama.

Manusia memiliki sistem terpisah di otak untuk mengevaluasi makanan berlemak atau karbohidrat. Kalau keduanya diaktifkan pada saat yang sama, trik itu membuat otak menghasilkan jumlah dopamin yang lebih besar dan rasa menyenangkan yang lebih besar daripada menimbang dari sisi energi makanan.

Hal itu bisa terjadi karena ketika otak manusia berevolusi, nenek moyang pemburu-pengumpul mengonsumsi makan diet yang terdiri dari tumbuh-tumbuhan dan daging. Mereka tidak pernah menemukan makanan yang tinggi baik karbohidrat maupun lemak. "Otak digunakan untuk melihat satu sinyal pada suatu waktu. Makanan modern menipu sistem,” kata Small, dikutip dari New Scientist, Jumat (22/6).

Temuan itu sesuai dengan penelitian pada hewan pengerat yang menemukan bahwa mereka dapat mengatur asupan kalori ketika diberi makanan yang hanya mengandung lemak atau karbohidrat. Namun, akan terjadi konsumsi berlebih dan menambah berat badan ketika diberikan akses ke makanan yang mengandung keduanya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES