Kamis, 7 Syawwal 1439 / 21 Juni 2018

Kamis, 7 Syawwal 1439 / 21 Juni 2018

Kue Kering Tali-Tali Kian Laris Saat Ramadhan

Jumat 25 Mei 2018 06:26 WIB

Red: Yudha Manggala P Putra

Pekerja menyusun kue Tali-Tali yang siap digoreng di rumah produksi, Kamis, (24/5).

Pekerja menyusun kue Tali-Tali yang siap digoreng di rumah produksi, Kamis, (24/5).

Foto: Antara
Kue Tali Tali adalah makanan favorit dan bersejarah.

REPUBLIKA.CO.ID, MAKASSAR -- Kue kering Tali-Tali atau biasa disebut 'otere-otere' merupakan salah satu makanan khas Sulsel yang banyak diminati. Kue ini bahkan makin dicari saat bulan Ramadhan. Setidaknya permintaan akan kue ini mengalami peningkatan hingga 30 persen setiap bulan suci tiba.

"Biasanya hari biasa adonan terigu yang dibuat antara 70-100 kilogram perhari, namun semenjak ramadhan permintaan meningkat bahkan adonan harus ditambah antara 150-170 kilogram," kata H Yusuf pembuat Kue Tali-Tali di jalan Maccini Parang, Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (24/5).

Menurutnya, penambahan bahan tersebut karena banyaknya pesanan. Bukan hanya dari Kota Makassar bahkan dari daerah kabupaten di luar Makassar, sehingga dirinya harus menambah stok agar mencukupi permintaan.

Kue Tali-Tali ini kata dia, adalah makanan favorit dan bersejarah, disebabkan telah menjadi makanan khas Sulsel dan saat ini sulit didapatkan, membuat permintaan tersebut melonjak.

"Rata-rata pemesannya dari distributor dengan mengambil banyak. Bulan puasa seperti ini apalagi mau lebaran permintaan pasti banyak. Biasanya dari luar daerah juga mengorder lebih banyak dibanding hari biasa," ungkap pemilik CV Ibnu Munsir itu.

Meningkatnya permintaan hingga 30 persen tersebut, lanjutnya, tidak lepas dari kesukaan masyarakat akan makanan jajanan ini yang sudah menjadi nilai nostagia bagi konsumen, karena teringat dikala masa kanak-kanak mengkonsumsi itu.

Rata-rata pesanan di bulan puasa, papar dia, langsung bungkusan lima kilo, bukan lagi satu dua kilo. Maka dari itu kemasannya diperbesar untuk sampai kepada pemesan, tergantung mereka apakah di pecah-pecah menjadi bungkus kecil.

"Kalau hari biasa, bungkusan dipasarkan antara satu kilo, setengah kilo bahkan bungkusan kecil Rp 1.000 per bungkus. Tetapi kalau ramadhan langsung dipasarkan antara lima kilo bahkan ada sepuluh kilo, tergantung bungkusannya," beber Yusuf.

Meski telah beroperasi sejak 30 tahun, rasa dan aromanya tetap sama, selain kue Tali-Tali ini bisa bertahan maksimal delapan bulan, juga menggunakan gula murni tanpa bahan pengawet bukan hanya digemari anak-anak tapi orang dewasa pun suka.

Kendati kue ini masih diproduksi secara manual dengan tenaga manusia saat diolah, lalu dibentuk dan hanya menggunakan mesin giling untuk membantu proses percepatan pencetakan adonan, lanjut dia, semua dikerjakan tanpa campuran bahan kimia.

Hanya saja makanan ini belum dipasarkan secara luas karena selain izin dari Dinas Perdagangan dan pihak terkait masih sedang diusulkan, tetapi untuk higienisnya sudah mendapatkan izin juga pengakuan dari Dinas Kesehatan Kota Makassar.

Untuk omzet yang dihasilkan per harinya, juga mengalami peningkatan, namun Yusuf enggan menyebut berapa besaran omzet perharinya dengan alasan rahasia perusahaan. Tetapi, untuk omzet ramadhan tahun lalu, sebutnya hampir mencapai Rp 300 juta.

"Mudah-mudahan tahun ini omzetnya bertambah. Meskipun banyak pesaing kue yang lain, kami tetap optimistis kue Tali-Tali masih favorit di hati masyarakat Sulsel. Saya juga beberapa kali diajak ikut pameran makanan khas, kadang ikut kadang juga tidak," tambahnya.

Dirinya berharap agar kue khas Makassar ini bisa bertahan, mengingat banyaknya jenis-jenis kue baru dipasaran yang beredar. Selain itu, perhatian pemerintah daerah diperlukan dalam membina jenis-jenis usaha khususnya makanan khas Makassar yang mulai jarang dijumpai.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES