Kamis, 18 Ramadhan 1440 / 23 Mei 2019

Kamis, 18 Ramadhan 1440 / 23 Mei 2019

Uniknya Cokelat Tempe Khas Kota Malang

Senin 22 Mei 2017 10:52 WIB

Rep: Christiyaningsih/ Red: Indira Rezkisari

Warga Kota Malang bernama Yoga Surya Pratama memperkenalkan cara baru menikmati coklat yakni dengan cita rasa tempe.

Warga Kota Malang bernama Yoga Surya Pratama memperkenalkan cara baru menikmati coklat yakni dengan cita rasa tempe.

Foto: Republika/Christiyaningsih

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Cokelat batangan yang diisi dengan kacang mede atau kacang almond sudah biasa. Namun pernahkah mencoba cokelat batangan yang diisi kacang kedelai dalam bentuk tempe? Rasanya ternyata tak kalah nikmat dengan cokelat mede atau almond.

Warga Kota Malang bernama Yoga Surya Pratama memperkenalkan cara baru menikmati cokelat yakni dengan cita rasa tempe. Sejak 2011 ia merintis usaha cokelat tempe De Konco dan kini produknya menjadi salah satu oleh-oleh khas Kota Malang.

"Awalnya membuat cokelat rasa pedas tapi rasanya malah aneh, setelah banyak coba-coba akhirnya ketemu resep yang pas yaitu cokelat tempe," jelas Yoga saat berbincang dengan Republika.co.id akhir pekan lalu.

Cokelat tempe buatan Yoga dijual dengan harga bervariasi mulai Rp 8 ribu hingga Rp 95 ribu. Lewat racikan De Konco, rasa cokelat yang manis berpadu dengan renyahnya tempe goreng sebagai isian. Menurut pria lulusan SMK ini rahasia kelezatan cokelat tempe terletak pada proses vakum.

"Tempe digoreng dengan metode tertentu kemudian divakum agar tak ada minyak yang tertinggal," ujar Yoga sedikit membocorkan rahasia dapurnya.

Cokelat tempe De Konco memiliki outlet sendiri di Kota Malang dan juga telah dipasarkan ke berbagai toko oleh-oleh. Berbagai varian rasa ditawarkan cokelat tempe mulai dari rasa original, stroberi, dan apel.

Cokelat tempe ini telah mengantongi izin IRT dan sertifikat halal dari MUI. Yoga mengatakan cokelat tempe De Konco mampu bertahan tujuh bulan dalam suhu ruangan.

Setiap bulan ribuan batang cokelat tempe laris terjual apalagi pada musim liburan dan Lebaran. Rata-rata dua kuintal cokelat ia produksi setiap bulan. Saat Lebaran, permintaan bahkan naik hingga 200 persen.

Dengan mengusung tagline Malang Heritage Chocolate, pemuda 23 tahun ini ingin membuat tempe sebagai makanan yang bergengsi. Menurut Yoga, Malang dikenal sebagai penghasil tempe tapi selama ini tempe masih dianggap makanan pinggiran. "Maka dengan mengombinasikan tempe dan cokelat diharapkan tempe makin naik kelas," ujarnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA