Thursday, 14 Jumadil Awwal 1444 / 08 December 2022

Untuk Makanan, Kurangi Penggunaan Kertas Daur Ulang

Kamis 24 Nov 2016 23:21 WIB

Red: Mansyur Faqih

Produk Foopak

Produk Foopak

Foto: dok Foopak

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penggunaan kertas sebagai wadah tempat makan memang sudah lazim di Indonesia. Sayangnya, masih banyak yang belum layak untuk menjadi kemasan pangan primer. Misalnya, masih banyak ditemukan penggunaan kertas koran, kertas bekas cetakan, atau kertas daur ulang sebagai kemasan makanan.

Padahal, berdasarkan riset Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), jumlah bakteri yang terkandung dalam kertas pangan yang terbuat dari kertas daur ulang sekitar 1,5 juta koloni per gram. Sedangkan rata-rata kertas nasi yang umum digunakan beratnya 70–100 gram. Artinya, ada sebanyak 105 juta–150 juta bakteri yang terdapat di kertas tersebut.

"Kandungan mikroorganisme di kertas daur ulang memiliki nilai tertinggi dibandingkan jenis kertas lainnya. Ini melebihi batas yang ditentukan," ujar Euis Hermiati, peneliti Pusat Penelitian Biomaterial LIPI dalam acara roadshow food safety packaging di Jakarta, Kamis (24/11) dalam keterangannya.

Zat kimia tersebut, kata dia, berdampak negatif terhadap tubuh manusia dan dapat memicu berbagai penyakit. Mulai dari kanker, kerusakan hati, kelenjar getah bening, mengganggu sistem endokrin, gangguan reproduksi, meningkatkan risiko asma, hingga mutasi gen.

Menurut dia, kemasan makanan berbahan dasar kertas nondaur ulang bisa menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan penggunaan kemasan daur ulang dan styrofoam. "Di luar negeri trennya sudah seperti itu, jadi untuk mengurangi limbah karena biasanya kemasan ini bio degradable dan sudah memiliki standar keamanan," tambah dia.

Rangkaian roadshow food safety packaging yang dilaksanakan di tiga lokasi, yakni Jakarta, Bandung (29/11), dan Semarang (2/12) dihadiri oleh beberapa narasumber di bidang food safety. Misalnya, Badan POM, LIPI, dan LPPOM MUI. Program ini bertujuan untuk memberi edukasi kepada masyarakat untuk hidup sehat, khususnya memilih kemasan pangan yang food grade dan higienis.

Sebagai alternatif lain, ujar Euis, masyarakat dapat menggunakan kemasan pangan berkategori food grade yang 100 persen terbuat dari serat alami. Ciri-cirinya, tampilan berwarna putih bersih, tidak berbintik-bintik, dan tak tembus minyak. 

Hal ini yang diandalkan Foopak, produsen kemasan pangan food grade yang turut hadir dalam acara ini. "Produk kami dapat menjadi salah satu solusi dalam menghadirkan kemasan pangan yang aman dan higienis bagi para konsumen dan produsen makanan," ujar Atul Tyagi, Foopak technical expert, 

Tyagi menambahkan, produk Foopak telah teruji bebas dari bahan kimia berbahaya, bersertifikat Food and Drugs Administration (FDA), sudah memiliki sertifikasi ISEGS, dan sertifikasi Halal.

Produk Foopak juga memiliki desain khsus sehingga dapat melindungi makanan dari kontaminasi dan ramah lingkungan. Foopak pun diklasifikasikan berdasarkan aplikasi pada makanan, sehingga semua jenis makanan bisa terlindungi dengan baik dan aman.

"Foopak merupakan kemasan makanan yang 100 persen bio degradable, memiliki kemampuan untuk menahan minyak, kemasan yang secara khusus dikembangkan untuk penyimpanan di lemari es, kemasan yang didesain khusus untuk menjaga kualitas kesegaran makanan," papar dia.  

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA