Saturday, 9 Rabiul Awwal 1440 / 17 November 2018

Saturday, 9 Rabiul Awwal 1440 / 17 November 2018

Kisah Erita Lubeek, Menjual Masakan Padang ke Jerman, Perancis dan Belgia

Selasa 16 Feb 2016 05:07 WIB

Red: Irwan Kelana

Erita Lubeek (kanan) bersama suami, Marko Lubeek.

Erita Lubeek (kanan) bersama suami, Marko Lubeek.

Foto: Irwan Kelana/Republika

REPUBLIKA.CO.ID, Krisis moneter yang melanda Indonesia tahun 1998 membawa perubahan besar dalam kehidupan Erita Lubeek. Suaminya yang berdarah Belanda, Marko Lubeek (Abdul Malik) mendapat panggilan Kedutaan Belanda di Jakarta untuk meninggalkan Indonesia sesegera mungkin. Padahal, mereka baru menikah setengah tahun yang lalu.

Melihat situasi dan kondisi keamanan Indonesia yang mengkhawatirkan, akhirnya Marko Lubeek memboyong istrinya, wanita Indonesia yang berdarah Minang itu, ke Belanda, tepatnya ke Rotterdam. "Sebetulnya pada waktu itu saya tidak mau dibawa pulang ke Belanda. Ada pertentangan batin. Apalagi saya tidak punya sanak saudara di Belanda," kata Erita Lubeek saat berbincang dengan wartawan Republika, Irwan Kelana, di Hotel Hyatt Place, Amsterdam, Senin (15/2).

Erita mengaku butuh waktu tiga tahun, baru ia merasa nyaman tinggal di Amsterdam. "Untuk mengisi kesibukan, saya merintis bisnis sejak tahun 2005. Awalnya saya membuka lapak kaki lima di Pasar Blaak, Rotterdam. Saya menjual snack dan bumbu asal Indonesia," ujar Erita yang didampingi suami tercintanya.

Tahun 2011, Erita memberanikan diri membuka restoran Padang di Den Haag. Namanya Salero Minang. "Saya membuka restoran Padang Salero Minang sebagai wujud cinta  kepada warisan leluhur dan sekaligus memopulerkan kuliner Indonesia, khususnya masakan Padang kepada masyarakat Eropa," tutur Erita.

Ternyata, kata Erita, para pelanggan Restoran Salero Minang tidak hanya orang-orang Indonesia yang tinggal di Belanda dan turis asal Indonesia, tetapi juga masyarakat Belanda. "Karena itu, kami menyediakan dua macam racikan masakan. Yakni masakan asli Padang yang pedas, dan makanan Padang yang sudah dimodifikasi sesuai dengan selera masyarakat Belanda, yakni bercita rasa manis," papar Erita.

Selain menjual masakan Padang di restorannya, Erita juga melayani pesanan masyarakat Indonesia yang tinggal di berbagai negara di Eropa. Pesanan tersebut terutama untuk acara-acara tertentu, seperti Forum Indonesia, silaturahmi masyarakat Indonesia,dan pesta rakyat dalam rangka peringatan HUT kemerdekaan RI. "Kami melayani pesanan masakan Padang ke berbagai negara Eropa, seperti Jerman, Perancis, dan Belgia," tutur Erita.

 

 

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES