Jumat, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Jumat, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Anak Obesitas Berisiko Alami Masalah Kesehatan Mental

Senin 13 Mei 2019 14:10 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Reiny Dwinanda

Anak kegemukan/ilustrasi

Anak kegemukan/ilustrasi

Foto: Darmawan/Republika
Anak yang obesitas di usia tujuh tahun berisiko terkena gangguan kesehatan mental.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Orang tua sebaiknya perlu berpikir ribuan kali sebelum menganggap anak gemuk atau obesitas sebagai hal yang menggemaskan. Anak obesitas memiliki kecenderungan lebih besar untuk mengalami masalah kesehatan mental di kemudian hari.

Berdasarkan sebuah studi terbaru, anak-anak obesitas lebih berisiko untuk mengalami masalah kesehatan mental seiring dengan berjalannya waktu. Beberapa masalah kesehatan mental yang mungkin dialami adalah kecemasan dan gangguan mood.

Di lain sisi, anak-anak yang mengalami masalah emosional juga lebih rentan untuk menjadi obesitas. Berdasarkan temuan ini, obesitas dan masalah kesehatan mental tampak seperti lingkar setan yang saling memicu. Akan sulit bagi anak untuk keluar dari jeratan obesitas dan risiko gangguan kesehatan mental bila mereka mengalaminya di usia tujuh tahun ke atas.

"Kesadaran dan pemahaman bahwa berat berlebih dan masalah emosional yang sering kali terjadi bersamaan mungkin penting diketahui bagi orang tua," ujar salah satu peneliti sekaligus dosen senior dari University of Liverpool Chalrotte Hardman seperti dilansir Health24.

Selama penelitian, Hardman dan rekan penelitinya, Praveetha Patalay, melakukan pengukuran indeks massa tubuh dan kesehatan mental pada lebih dari 17 ribu anak-anak di Inggris. Anak-anak yang terlibat dalam penelitian ini lahir pada 2000 dan 2002.

Dalam penelitian ini, Hardman dan Patalay memang tidak menemukan adanya hubungan langsung antara obesitas dan masalah emosinal ketika anak masih sangat kecil. Akan tetapi hubungan antara obesitas dan masalah emosional mulai tampak jelas ketika anak memasuki usia tujuh tahun. Hubungan ini makin tampak kuat seiring dengan bertambahnya usia anak.

Berdasarkan penelitian ini, Hardman dan Patalay juga mengungkapkan bahwa anak-anak yang obesitas di usia tujuh tahun berisiko lebih besar mengalami masalah emosional pada usia 11 tahun. Pada usia 14 tahun, anak tersebut diprediksi akan memiliki indeks massa tubuh yang lebih besar lagi.

"Secara khusus, indeks massa tubuh yang lebih tinggi dan masalah emosional cenderung terjadi bersaamaan pada usia pertengahan masa anak-anak dan remaja, mulai dari usia tujuh hingga 14 tahun, tapi tidak terjadi pada usia awal anak, yaitu tiga dan lima tahun," ujar Hardman.

Tak hanya itu, Hardman juga mengungkapkan bahwa jenis kelamin turut memengaruhi risiko. Anak perempuan berusia tujuh hingga 14 tahun rata-rata memiliki indeks massa tubuh dan masalah emosional yang lebih tinggi dibandingkan anak laki-laki.

Meski begitu, Hardman mengungkapkan bahwa rasio anak perempuan dan laki-laki di usia tujuh hingga 14 tahun bisa dikatakan hampir sama dalam hal masalah obesitas dan masalah kesehatan mental atau masalah emosional. Temuan ini telah disampaikan pada 20 Maret lalu melalui jurnal JAMA Psychiatry.

Meski obesitas dan masalah kesehatan mental pada anak dikatakan sebagai lingkaran setan, bukan berarti jeratan itu tak bisa dipatahkan. Alasannya, obesitas dan masalah kesehatan mental pada anak biasanya memiliki banyak penyebab.

Obesitas pada anak bisa saja disebabkan oleh pola makan yang tidak sehat, aktivitas fisik yang kurang, hingga terlalu banyak mengonsumsi makanan olahan. Masalah kesehatan mental pada anak mungkin dipicu oleh perundungan, ejekan hingga stigma dari sesama teman.

Kalau itu penyebab obesitasnya, penerapkn pola makan dan pola hidup yang baik bisa menjadi solusi. Sebagai contoh, anak bisa didorong untuk lebih banyak melakukan aktivitas fisik dan membatasi penggunaan gawai hingga mengurangi asupan makanan olahan.

"Semua ini dapat membantu meningkatkan rasa percaya diri dan kesejahteraan, memperbaiki kesehatan usus dan menjaga berat badan anak," ungkap ahli gizi klinis senior dari NYU Langone Health Samantha Heller.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA