Jumat, 19 Safar 1441 / 18 Oktober 2019

Jumat, 19 Safar 1441 / 18 Oktober 2019

Studi: Obesitas Meningkat Lebih Cepat di Perdesaan

Kamis 09 Mei 2019 11:52 WIB

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani/ Red: Christiyaningsih

Obesitas/ilustrasi

Obesitas/ilustrasi

Studi membalikkan persepsi lama yang menganggap tinggal di kota menyebabkan obesitas

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON — Obesitas di seluruh dunia meningkat lebih cepat di daerah perdesaan daripada di kota. Laporan studi ini menantang asumsi lama epidemi global kelebihan berat badan, terutama masalah perkotaan.

Data yang mencakup 200 negara dan wilayah yang dihimpun oleh dari seribu peneliti menunjukkan kenaikan rata-rata sekitar lima hingga enam kilogram per wanita dan pria yang tinggal di pedesaan. Data itu dihimpun sejak 1985 hingga 2017.  Menurut temuan yang diterbitkan di Nature, perempuan dan laki-laki yamg ditinggal di kota masing-masing ada di angka 38 dan 24 persen lebih sedikit, daripada rekan-rekan mereka di pedesaan pada periode yang sama.

“Hasil dari penelitian besar-besaran ini membalikkan persepsi bahwa tinggal di kota adalah penyebab utama meningkatnya obesitas global,” kata penulis senior Majid Ezzati, seorang profesor di Sekolah Kesehatan Masyarakat Imperial College London seperti dilansir Malay Mail, Kamis (9/5).

“Ini berarti kita perlu memikirkan kembali bagaimana kita mengatasi masalah kesehatan global ini,” ujarnya.

Pengecualian umum untuk tren ini adalah sub Sahara Afrika, di mana wanita bertambah berat di kota-kota. Obesitas telah muncul sebagai epidemi kesehatan global yang mendorong meningkatnya angka penyakit jantung, strok, diabetes, dan sejumlah kanker.

Biaya tahunan mengobati dampak kesehatan terkait dapat mencapai satu triliun dolar Amerika Serikat (AS) pada 2025. Laporan ini sudah diperkirakan pada Federasi Obesitas Dunia pada 2017.

Sampai saat ini, sebagian besar kebijakan nasional dan internasional untuk mencegah kelebihan berat badan telah difokuskan pada kota-kota. Termasuk pesan publik dan desain ulang ruang kota untuk mendorong berjalan kaki dan fasilitas olahraga bersubsidi.

Untuk memasukkan status kesehatan ke dalam perbandingan antarnegara, para peneliti menggunakan ukuran standar yang dikenal dengan indeks massa tubuh atau BMI berdasarkan tinggi dan berat badan. Seseorang dengan BMI 25 atau lebih dianggap kelebihan berat badan. Sedangkan 30 atau lebih tinggi mengalami obesitas.

BMI yang sehat berkisar antara 18,5 hingga 24,9. Sekitar dua miliar orang dewasa di dunia kelebihan berat badan, hampir sepertiga dari mereka mengalami obesitas. Jumlah orang gemuk telah meningkat tiga kali lipat sejak 1975.

Studi ini mengungkapkan perbedaan penting antar negara tergantung pada tingkat pendapatan. Di negara-negara penghasilan tinggi misalnya, studi ini menemukan BMI perdesaan pada umumnya sudah lebih tinggi pada 1985, terutama untuk wanita.

Faktor-faktor seperti tingkat pendapatan dan pendidikan yang lebih rendah, biaya tinggi dan ketersediaan makanan sehat yang terbatas, ketergantungan pada kendaraan, penghapusan tenaga kerja manual kemungkinan berkontribusi pada kenaikan berat badan yang progresif.

“Sebaliknya di daerah perkotaan menyediakan banyak peluang untuk nutrisi lebih baik, lebih banyak latihan fisik, rekreasi, dan kesehatan meningkat secara keseluruhan,” ujar Ezzati.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA