Friday, 19 Ramadhan 1440 / 24 May 2019

Friday, 19 Ramadhan 1440 / 24 May 2019

Sehat dengan Diet Okinawa, Apa Itu?

Selasa 19 Mar 2019 09:01 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadhani/ Red: Indira Rezkisari

Ubi ungu merupakan makanan utama pengganti nasi di masyarakat Okinawa Jepang.

Ubi ungu merupakan makanan utama pengganti nasi di masyarakat Okinawa Jepang.

Foto: flickr
Kunci utama dari diet Okinawa adalah hukum berhenti makan ketika 80 persen kenyang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Okinawa merupakan pulau terbesar di Jepang yang menjadi salah satu area Zona Biru. Zona Biru merupakan sebutan untuk area-area di dunia yang warganya dianggap paling sehat karena memiliki tingkat penyakit jantung, kanker, diabetes serta obesitas yang rendah.

Baca Juga

Warga Okinawa juga terkenal memiliki harapan hidup yang sangat panjang. Cukup banyak warga Okinawa yang berhasil mencapai usia 100 tahun.

Pola makan diyakini menjadi salah satu rahasia sehat dan umur panjang warga Okinawa. Pola makan atau diet yang umumnya diterapkan warga asli Okinawa cenderung kaya akan nutrisi dan rendah kalori.

Diet Okinawa juga diketahui tidak memiliki pantangan khusus pada pemilihan makanan. Namun secara umum, warga Okinawa tidak begitu banyak mengonsumsi daging, produk susu ataupun padi-padian.

Diet Okinawa memiliki dua kunci utama. Yang pertama, diet Okinawa lebih didominasi oleh pola makan berbasis tumbuhan. Beberapa contohnya adlaah ubi, sayuran hijau dan kuning seperti labu, paprika, melon pahit serta rumput laut.

"Keunggulan dari sayuran kuning membuat diet ini kaya akan karotenoid yang dapat menurunkan inflamasi dan meningkatkan fungsi sistem imun," ungkap ahli gizi bariatrik dari Montefiore Medical Center Melissa Rifkin RD seperti dilansir Shape.

Sayuran-sayuran ini biasanya akan dilengkapi dengan tahu dan jamur. Orang-orang Okinawa juga menyantap nasi, namun dalam porsi yang lebih sedikit dibandingkan pola makan orang Jepang pada umumnya. Diet Okinawa lebih banyak menggunakan ubi kuning atau ungu sebagai sumber protein.

Warga Okinawa juga hanya melihat daging sebagai pelengkap makanan bukan makanan utama. Oleh karena itu, orang-orang yang menerapkan diet Okinawa masih bisa mengonsumsi daging dan makanan laut, akan tetapi dalam jumlah yang terbatas.

Kunci utama dari diet Okinawa yang kedua adalah hukum 80/20. Maksudnya, orang-orang di Okinawa biasanya makan sampai mereka merasa perut terisi namun tidak sampai benar-benar kenyang. Mereka cenderung berhenti makan ketika rasa kenyang sudah mencapai 80 persen.

Diet Okinawa dianggap sehat dan dapat diadopsi oleh siapa saja. Diet ini jauh dari makanan yang diproses dan lebih banyak menggunakan bahan-bahan makanan segar sehingga kandungan air dalam diet ini juga cukup tinggi. Diet Okinawa juga kaya akan serat dan karbohidrat namun memiliki kalori dan lemak keseluruhan yang rendah.

Dari diet ini, warga Okinawa secara umum hanya mengonsumsi 1.200 kalori per hari. Karena diet Okinawa didominasi maknaan berbasis tumbuhan, konsumsi buah dan sayur dalam diet ini juga tinggi. Oleh karena itu, diet Okinawa juga mengandung vitamin, antioksidan dan serat tinggi yang bermanfaat untuk menurunkan inflamasi dalam tubuh.

Keunggulan diet Okinawa adalah tidak memiliki pantangan yang ketat. Diet Okinawa masih memperbolehkan konsumsi daging, makanan laut hingga karbohidrat. Orang-orang yang berdiet hanya diminta untuk tidak makan berlebih dan berhenti makan setelah rasa kenyang mencapai 80 persen.

Namun karena konsumsi daging, produk susu dan padi-padian dibatasi jumlahnya, diet Okinawa berpotensi kekurangan beberapa nutrisi seperti vitamin B dan d, kalsium serta zat besi. Diet Okinawa juga tinggi akan kedelai yang tidak cocok bagi sebagian populasi.

Oleh karena itu, Rifkin menilai diet Okinawa tidak bisa dianggap sebagai satu-satunya kunci yang menyehatkan dan memperpanjang umur warga Okinawa. Warga Okinawa umumnya melengkapi pola makan sehat ini dengan pola hidup yang baik. Sebagai contoh, orang-orang yang tinggal di Zona Biru cenderung aktif bergerak dan melakukan 14 ribu hingga 18 ribu langkah per hari.

"Kita perlu mencontoh warga Okinawa dan mulai menyantap makanan yang datang dari tanah," terang Rifkin.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA