Tuesday, 16 Ramadhan 1440 / 21 May 2019

Tuesday, 16 Ramadhan 1440 / 21 May 2019

ASI, Sumber Asam Lemak Esensial Terbaik

Jumat 01 Mar 2019 12:31 WIB

Rep: Desy Susilawati/ Red: Indira Rezkisari

Ibu menyusui.

Ibu menyusui.

Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Pemberian ASI hingga 2 tahun meningkatkan asupan omega-3 dan omega-6 signifikan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Asam lemak esensial besar manfaatnya bagi tubuh. Terutama bagi anak yang sedang tumbuh berkembang.

Baca Juga

Dokter spesialis anak dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A(K) mengatakan asam lemak esensial adalah jenis asam lemak yang tidak bisa disintesis oleh tubuh. Untuk memperolehnya manusia harus melahap makanan yang mengandung asam lemak esensial.

Ia mengatakan asam lemak esensial terkandung dalam ASI. Selama bayi baru lahir sampai usia enam bulan, bayi sebaiknya diberikan ASI ekslusif. Salah satunya demi memenuhi kebutuhan asam lemak esensial ini.

Namun selepas masa ASI eksklusif, masukkan makanan sumber asam lemak esensial pada makanan pendamping ASI (MPASI). Khususnya yang mengandung omega-3.

Senada, Guru Besar Bidang Keamanan Pangan dan Gizi Pada Departemen Gizi Masyarakat – Fakultas Ekologi Manusia IPB, Prof Dr Ir Ahmad Sulaeman, MS mengatakan asupan omega-3 dari ASI mendekati kebutuhan anak. “Memang masa kritisnya saat penyapihan, ketika anak mulai MPASI,” ucap Prof. Ahmad.

Meneruskan ASI setelah 6 bulan hingga usia 24 bulan meningkatkan asupan omega-3 dan omega-6 secara signifikan. Ia melanjutkan, asupan omega-3 juga bisa didapat dari fortifikasi atau suplementasi. Misalnya dengan susu pertumbuhan yang difortifikasi atau minyak ikan.

Yang juga perlu diperhatikan, asupan makanan ibu selama menyusui juga harus bagus. Tujuannya agar kandungan AHA dan DHA dalam ASI optimal.

Sumber makanan Indonesia yang kaya akan EPA dan DHA antara lain ikan lemuru, ikan sarden, ikan lele, dan susu yang difortifikasi. Adapun tempe dan tahu kaya akan LA dan ALA, tapi tidak mengandung EPA dan DHA. Makanan laut juga merupakan sumber omega-3 yang sangat baik.

Perlu diperhatikan cara pengolahan bahan makanan sumber omega-3. “Omega-3 merupakan asam lemak tak jenuh ganda, yang mudah rusak akibat pemanasan,” jelas Prof. Ahmad.

Kurang disarankan diolah dengan cara digoreng karena melibatkan suhu pemanasan yang sangat tinggi. Lebih baik dikukus, ditumis, atau dibuat makanan berkuah.

Berdasarkan tumpeng pedoman gizi seimbang, gula, garam, dan lemak cukup sedikit saja. Lemak yang dimaksud di sini adalah lemak yang kelihatan, misalnya minyak untuk menggoreng. Ada pula yang disebut dengan lemak yang tidak tertlihat, yakni yang terkandung dalam sumber pangan, baik hewani maupun nabati.

Untuk lemak yang seperti ini, disarankan mencakup 30 persen dari total kebutuhan kalori dalam sehari. Dari 30 persen tersebut, kandungan PUFA disarankan sekitar 10 persen.

Rasio antara omega-3 dan omega-6 sebaiknya tidak terlalu jauh. Secara umum, omega-3 bersifat antiinflamasi, sedangkan iemga-6 proinflamasi. Bila asupan omega-6 terlalu tinggi sedangkan omega-3 rendah, keseimbangan antara proinflamasi dan aintiinflamasi bisa terganggu.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA