Sunday, 13 Syawwal 1440 / 16 June 2019

Sunday, 13 Syawwal 1440 / 16 June 2019

Antibiotik tak untuk Obati Penyakit Antivirus

Senin 24 Sep 2018 15:38 WIB

Red: Indira Rezkisari

Penggunaan antibiotik sebaiknya diminimalisir atau tidak dikonsumsi sama sekali.

Penggunaan antibiotik sebaiknya diminimalisir atau tidak dikonsumsi sama sekali.

Foto: pixabay
Penggunaan antibiotik harus berdasarkan resep dokter.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada kalanya dokter meresepkan antibiotik kepada pasien yang terjangkit infeksi beserta petunjuk pemakaian, misalnya harus diminum berapa kali sehari. Secara umum, terdapat empat mikroba yang menjadi penyebab infeksi, yaitu bakteri, virus, jamur dan parasit. Orang awam sering keliru menyamakan bakteri dengan virus, padahal keduanya merupakan mikroba yang berbeda.

Baca Juga

Menurut dr Harry Parathon SpOG(K) dari Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba Kemenkes RI menegaskan penggunaan antibiotik dipakai untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh bakteri, bukan virus. "Misalnya flu, diberi antibiotik kurang tepat. Flu karena virus," kata dia saat acara diskusi kesehatan mengenai bakteri di Jakarta, Senin (24/9).

Infeksi yang disebabkan oleh virus maupun bakteri umumnya menunjukkan gejala yang sama seperti batuk, pilek, demam, radang, muntah dan diare. Untuk mengetahui penyebab penyakit, dokter perlu melakukan diagnosis yang tepat sehingga dapat menentukan obat yang tepat untuk penyakit tersebut.

Perlu diingat, penggunaan untuk menggunakan antibiotik sebaiknya berdasarkan anjuran dokter karena tergolong obat keras. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat membunuh bakteri baik, atau flora normal, di dalam tubuh.

Padahal, salah satu satu fungsi flora normal di tubuh adalah untuk memerangi bakteri jahat. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat juga dapat mengakibatkan bakteri resisten sehingga perlu dosis yang lebih tinggi untuk membunuhnya.

Dokter Anis Karuniawati dari Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba Kemenkes RI mengingatkan obat keras ini sebaiknya tidak dikonsumsi tanpa pengawasan dokter, pun kita sebaiknya tidak sembarangan membeli di apotek. Ketika mendapatkan antibiotik, sebaiknya ikuti petunjuk pemakaian dari dokter, misalnya diminum tiga kali sehari dengan jeda 8 jam. Anis menyarankan untuk mengikuti jeda selama 8 jam tersebut, bukan hanya meminum antibiotik tiga kali dalam sehari.

Alasannya, bakteri memiliki aktivitas tertentu setiap delapan jam sehingga antibiotik akan dapat membunuh bakteri secara tepat jika mengikuti jeda tersebut.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA