Wednesday, 24 Safar 1441 / 23 October 2019

Wednesday, 24 Safar 1441 / 23 October 2019

Kemasan Styforoam tak Baik untuk Kesehatan, Benarkah?

Kamis 25 Jan 2018 21:13 WIB

Rep: Desy Susilawati/ Red: Hazliansyah

Styrofoam

Styrofoam

Foto: IPB
Para ahli BPOM Indonesia berkumpul dan menyampaikan penjelasan kepada publik

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kemasan makanan berbahan polistirena atau styrofoam kerap disebut sebagai bahan yang berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan. Kemasan ini dianggap bisa memicu kanker juga sulit diurai saat menjadi sampah. Benarkah demikian?

Para ahli dan perwakilan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan Indonesia berkumpul dan menyampaikan penjelasan kepada publik mengenai fakta-fakta yang ada. Dan hasilnya, berdasarkan data penelitan yang dilakukan, kemasan makanan berbahan tersebut aman bagi kesehatan berdasarkan pengujian laboratorium serta berkelanjutan bagi lingkungan berdasarkan studi-banding di negara lain.

Dra. Ani Rohmaniyati MSi., Kasubdit Standardisasi Produk dan Bahan Berbahaya, Direktorat Pengawasan Produk dan Bahan Berbahaya, Badan POM Indonesia, menuturkan, bahwa pengujian untuk kemasan makanan ini sudah dilakukan sejak tahun 2009 oleh BPOM.

"BPOM memberi pernyataan bahwa kemasan tersebut aman untuk digunakan masyarakat Indonesia," kata Ani di sela acara Media Workshop bertema Strawberry Tidak Menyebabkan Kanker -Mitos dan Fakta Di Balik Kemasan Makanan Styrofoam (We DONT think strawberries cause cancer the Myths and Facts about Styrofoam Food Packaging), di Jakarta, belum lama ini.

Di tahun 2009, BPOM telah melakukan penelitian independen untuk 17 kemasan berbahan polistirena. Dalam 17 kemasan tersebut ditemukan bahwa residu ppm masih dalam angka yang sangat aman, yakni 10 sampai 43 ppm.

"Angka ini jauh di bawah level berbahaya untuk residu kemasan makanan," ujar Ani. 

Selain sisi kesehatan, isu mengenai kemasan makanan polistirena ini juga sering dikaitkan dengan lingkungan.

Menanggapi hal ini, Kepala Laboratorium Teknologi Polimer dan Membran Institute Teknologi Bandung (LPTM ITB), Ir. Akhmad Zainal Abidin,M.Sc.,Ph.D memaparkan, bahwa kemasan makanan polistirena adalah kemasan yang paling berkelanjutan untuk lingkungan.

Ia mengatakan, kita harus menilai suatu bahan ramah lingkungan jika dari sisi produksi sampai ke sampahnya paling sedikit menggunakan energi, dan sampah tersebut bisa didaur ulang.

"Jangan menyerahkan sampah untuk diurai oleh alam saja, tetapi kita harus bertanggung jawab atas sampah tersebut. Sampah polistirena adalah sampah yang 100 persen bisa digunakan kembali. Sampah produk dari polistirena bisa dipecah, dan kembali dibentuk menjadi produk baru," katanya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA