Thursday, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Thursday, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Kemenkes Pastikan Cacar Monyet tak Masuk Indonesia

Ahad 12 May 2019 20:03 WIB

Rep: Rizkyan adiyudha/ Red: Gita Amanda

Sekumpulan monyet (Ilustrasi)

Sekumpulan monyet (Ilustrasi)

Foto: Antara
Monkeypox adalah penyakit akibat virus yang ditularkan melalui binatang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktorat Jenderal (Dirjen) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan (kemenkes) memastikan sampai saat ini belum ditemukan kasus monkeypox atau cacar monyet di Indonesia. Monkeypox adalah penyakit akibat virus yang ditularkan melalui binatang (zoonosis).

"Penularan pada manusia terjadi karena kontak dengan monyet, tikus Gambia dan tupai, atau mengonsumsi daging binatang yang sudah terkontaminasi," kata Dirjen P2P Kemenkes Anung Sugihantono di Jakarta, Ahad (12/5).

Dia mengatakan, penularan dapat terjadi melalui kontak dengan darah, cairan tubuh atau lesi pada kulit atau mukosa dari binatang yang tertular virus. Dia melanjutkan, inang utama dari virus ini adalah rodent (tikus). "Penularan dari manusia ke manusia sangat jarang," kata Anung lagi.

Dia menjelaskan, masa inkubasi monkeypox biasanya enam hingga 16 hari atau lima hingga 21 hari. Dia mengungkapkan, gejala yang timbul berupa demam, sakit kepala hebat, pembesaran kelenjar getah bening, nyeri punggung, nyeri otot dan lemas.

Ruam pada kulit muncul pada wajah kemudian menyebar ke bagian tubuh lainnya. Ruam ini berkembang mulai dari bintik merah seperti cacar (makulopapula), lepuh berisi cairan bening, lepuh berisi nanah, kemudian mengeras.

"Biasanya diperlukan waktu hingga tiga minggu sampai ruam tersebut menghilang," katanya.

Anung mengatakan, monkeypox biasanya merupakan penyakit yang dapat sembuh sendiri dengan gejala yang berlangsung selama 14 sampai 21 hari. Dia melanjutkan, kasus yang parah lebih sering terjadi pada anak-anak dan terkait dengan tingkat paparan virus, status kesehatan pasien dan tingkat keparahan komplikasi.

Lebih lanjut, Anung mengatakan, kasus kematian bervariasi tetapi kurang dari 10 persen dari kasus yang dilaporkan. Dia mengungkapkan, sebagian besar di antaranya adalah anak-anak.

"Secara umum, kelompok usia yang lebih muda tampaknya lebih rentan terhadap penyakit monkeypox," katanya.

Anung mengatakan, monkeypox hanya dapat didiagnosis melalui pemeriksaan laboratorium. Penyakit tersebut, dia mengatakan, juga tidak memiliki pengobatan khusus atau vaksinasi yang tersedia untuk infeksi virus monkeypox.

"Pengobatan simptomatik dan supportif dapat diberikan untuk meringankan keluhan yang muncul," katanya.

Sebelumnya, Pemerintah Singapura mengonfirmasi kasus infeksi monkeypox atau cacar monyet pertama. Satu orang yang terinfeksi berasal dari Nigeria. Pasien itu adalah seorang Nigeria berusia 38 tahun yang tiba pada 28 April dan dinyatakan positif terkena virus pada 8 Mei.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA